NOT A LOVE STORY!!!

Selasa, 14 Oktober 2014

"Aku ganggu kamu gak sih?" "Iya kamu ganggu, kamu urus aja cewemu sana gausah urus cewe lain, jeleknya kamu udah ketahuan, malasin" Wow? Seketika tatapanku tidak bisa dipalingkan dari layar gadget. Seketika semuanya hening, suara ribut knalpot motor di samping rumah sudah tidak terdengar lagi. Laporan resmi yang harus dikerjakan ku abaikan. Inikah aku? Sepayah inikah aku? Se hina inikah aku? Bagaimana perasaan kalian jika org yg benar-benar kalian sayangi berkata seperti itu? Oh aku sudah benar benar keluar dari jalur. Aku yang memulai, dan aku pula menghancurkan. Ini adalah kebodohan yang paling ku sesali selama ini, kenapa? Ya kenapa? Lama aku berpikir, yang ada hanyalah bayang wajahnya, senyumnya yang indah perlahan memudar, menjadi bentuk lain yang benar-benar aku tidak pernah bayangkan, seketika batinku memang benar benar terpukul. Memang sejak aku mengawali kebodohanku aku memang berpikir kalau memang aku benar-benar tidak bisa memilikinya. Dengan siapapun aku didampingi kelak, mungkin bekas perasaanku ke dia memang benar-benar pudar. Ya, bendera putih sudah aku tancapkan di hati, sudah aku kibarkan. Sudahlah. Ya sudahlah. "Jangan melakukan hal yang aneh aneh, tidak usah mikirin dia dulu, jangan juga deketin cewe lain karena buat pelampiasan, kamu bakal menyesal, dia bakal mikirin kamu cowo super brengsek, cewe yg bakal kamu deketin juga bakal sakit hati lebih". Ya benar benar pertempuran di hati ini argh! Cara pendekatanku terhadap dia cukup unik, kenapa aku bisa pacaran sama perempuan lain? Aku orangnya gampang menyerah sodara setanah air, pernah aku tau kalau dia juga di dekatin akumni sekolahku, makanya aku langsung terjun bebas. Kalian tau? Aku tidak pernah mencoba mendekati perempuan lain, ya perempuan sialan ini, agak sedikit psikopat yang mulai mendekati. Seharusnya dari awal aku sudah tau yang benar, seharusnya di awal aku jangan mudah menyerah, kalopun hasilnya negatif paling tidak kesetiaan dan perjuanganku bs memuaskan perasaanku sendiri. Ya sudahlah, semua sudah terjadi, aku cuman bisa melihat kebelakang. Hati ini sudah bulat, tidak usah lah mikirin dia dulu, kita fokuskan ke laporan-laporan sialan ini. Lebih menyakitkan lagi di halaman persembahan laporan jilidku sudah terlanjur ada namanya, yasudah daripada di rombak biarlah sudah, biarlah setiap aku melihat satudari laporan laporanku aku teingat kebodohanku. Biarlah ini membuat aku belajar. Ya sudah lah! Oke.. After all, life goes on. -------------------------------------------- Sudah terlalu banyak hari yang aku lewatkan, perasaanku benar benar kosong, aku mencoba hal yang paling sulit dilakukan, untuk tidak mencoba membuka profil sosmed dia. Untuk tidak mencoba mengganggu dia. Wow? Ya menurut aku ini "wow", sudahlah, aku sudah malas cerita ke siapapun, cerita ke teman, sahabat. Tidak ada gunanya. Libur semester sudah tiba, itu artinya jarak antara aku dan dia berkurang. Kami akan sama-sama memginjakan kali di tanah kecintaan. Ingin saja sudah aku cari tanggal berapa dia pulang, ingin saja sudah aku satu pesawat bersamanya. Ya paling tidak melihat mukanya sekali lagi secara langsung. Terakhir kali hanyalah saat tidak sengaja ketemu di rumah makan Cina. Ya memang, aku kok bisa dirubah seperti ini? Aku benar-benar orang yang tidak terlalu suka dgn yang namanya "dilema". Tapi inilah yang aku rasakan. Senyuman keseharian ku ini menyimpan sesuatu di baliknya, lebih tepatnya penyesalan. Sebenarnya masih ada beberapa peristiwa yang mau sekali aku ceritakan, salah satu overdramaticku buat dia tapi tidak usahlah, aku kira kamu tidak perlu tau, biar aku yang menyimpan buat cerita ku sendiri. Maaf ya. Hari di hari di saat liburan aku manfaatkan dengan mencoba melakukan sesuatu yang baru, tapi tidak bisa, aktifitas harian datar, yang aku tunggu hanyalah pembuatan lagu baru, main monopoli bersama sahabat sahabat, dan juga fuyunghai kota asal. Terkadang pertahananku goyah, sosmednya pun menjadi perhatianku. Komitmen pada diriku sendiri benar-benar goyah. Bukannya sombong sebenarnya aku bisa melakukan hal yang lain, tapi aku tidak bisa, tidak boleh ada kebodohan jangan ada lagi hati yang harus terluka. Walaupun gadget berdering, aku sudah tau bukan lah dari dia, tapi aku masih menyimpan harapan. Gila! Ya memang gila, aku tergila gila gara gara wanita ini. Terlebih banyak sekali temanku yang jatuh hati padanya. Sulit untuk bercerita, sulit. Yap sekali saja pernah aku menghubunginya, gadget ini aku taruh di dalam ember, aku tidak berani untuk tau apakah cuman "R" atau dia balas. Aku tinggal di rumah, aku pergi untuk memeras keringat bersama sahabat lamaku. Sebenarnya sahabat lamaku ini juga suka sama dia, sahabat ku kepergok menyimpan foto dia di hapenya. Dan koleksinya super lengkap. Aku saja yang seperti ini tidak menyimpan foto dia sebanyak org ini, ya hanya ada 3 foto sajalah yang aku anggap memang paling indah. Sahabatku juga sudah lama tau kalo aku menyimpan perasaan, aku tidak bercerita, dia juga pintar membaca gerak gerikku. Tak apalah, mereka tidak bakal kemana mana mulutnya. Liburan sudah hampir habis, aku tak kunjung melihat dia secara langsung. Aku juga menyimpan harapan, setidaknya secara tak langsung ketemu seperti di rumah makan Cina. Waktu liburan sudah hampir habis, waktu kembali ke kota istimewa juga semakin dekat. Perlahan harapan ini memudar. -------------------------------------------------- "Hei, kamu bisa bantu aku?" "Bantu apa ja?" "Aku bla bla bla bla bla bla" "Oh kamu suka sama dia? Terlambat apa engganya aku gatau, dia mau buka pintu kembali aku juga gam tau, Hahaha iya sudah sini aku bantu, nanti aku tanyakan alamat dia ya" Ya ini adalah plan aku, aku berusaha kembali menyalakan lilin yang sumbunya sudah hampir habis. Aku rasa sumbunya sudah habis. Tapi tak apalah, apa salahnya kan di coba. Dia berulang tahun pada tanggal 24 di bulan 4. Sehari setelah aku tepatnya. Aku rasa hanya ini kejutan yang bisa aku lakukan. Aku takut, aku takut membuat dia ilfil, "ih apaan sih?" Itu pikirku, tapi yasudah, sudah terlanjur. Malam itu tanggal 22, aku memaksa temanku untuk menemani ku mencari kado yang cocok, aku tidak perlu jauh jauh, di seberang SPBU di dekat kampus 2 di situ menjadi tujuanku. Banyak sekali barang yang indah di sana, aku tau bahwa dia sangat menyukai hello kitty, tapi boneka sudah terlalu sering, mungkin ada juga laki-laki yang memberikan dia kado boneka. Perhatianku tertuju kepada kotak musik berwarna merah hati, ya itu saja. "Pasti buat orang yang spesial ya mas?" Aku hanya bisa tersenyum dengan pertanyaan sang penjaga kasir. Aku anbil kertas, aku buka sosmednya aku goreskan pensil HB yang membantuku mendapatkan nilai baik pada salahsatu mata kuliah yang aku benci. Aku rangkai juga kata-kata terbaikku, ya semua yang aku lakukan untuknya adalah yang terbaik dari aku, terlepas kebodohanku di masa lalu dan sekarang aku rasa. Temanku hanya bisa tersenyum "kamu ini jadi laki-laki romantis sekali, padahal nyanyi kayak orang gila". 23 april, astaga jam sudah menunjukan pukul 22.14, aku bakal terlambat mengirim paketan ini tepat waktu. Sesampainya di tempat penjualan jasa pengiriman lintas dunia aku memaksanya untuk memerioritaskan paketanku agar sampai tepat waktu. Syukurlah, dengan paketan coklat yang agak sedikit memaksa karena ukurannya melawan ukuran kado yang ada di dalamnya, tulisan alamat lengkapnya terlihat sedikit membelok dan menghilang... Hari itu adalah hari ulang tahunku, semua org mengucapkan selamat kepadaku, banyak sekali sampai aku malas membawa gadget apapun hari itu. Aku periksa aku tunggu yang spesial belum datang. Aku sudah hampir pasrah yasudahlah, ternyata dia berhasil memainkan sihirnya. Ya malam itu aku bisa tidur pulas, "kita liat bagaimana reaksinya terhadap sihirku besok". Tanggal 24, hari itu perasaanku tidak karuan. Aku takut akan respon darinya. Yasudahlah, tidak apa apa. Aku sengaja mengucapkan selamat ulang tahunnya secara biasa biasa, tidak di awal tidak pula di injury time alias babak tambahan waktu alias saat terakhir. Malam itu aku sibuk dengan laporan, tiba tiba hape berbunyi "eh paketanmu sudah sampai" reaksinyang aku takutkan ternata tidak terjadi. Ya sudah lah, aku hanya bisa tersenyum. 3 hari yang indah.....

TIPE CEWEK!

Well, bukan salahku dimasukkan ke kelas yang memang kebanyakan wanitanya. Yap, ini menjadi menyenangkan, karena kami kaum laki-laki merupakan kaum yang benar-benar langka di lingkungan ini. Tidak ada yang menarik hati sih, karena pacaran satu kelas memang benar-benar bukan gaya hidupku. Tidak salah juga gara-gara kehidupan rockstarku di jaman SMA membuat aku popular di kalangan wanita sekolah, yap kalian mau memprotesnnya? Maaf ini kenyataan, mungkin kalian masih bisa melihat auraku saat ini.. Ah, kita sudah melenceng terlalu jauh. Kembali ke hal yang penting, yaitu bahwa semua manusia dari zaman Batu memang makhluk yang membentuk kelompok, ada yang saling mendukung antar kelompok, ada juga yang saling tikam menikam. Well kita berbicara wanita, wanita di SMA ku benar-benar terbagi atas beberapa kelompok besar dan kelompok kecil. AKu tidak bisa menyalahkan mereka, baguslah bahwa mereka membuat suatu kelompok, bayangkan aja coy, kalau mereka tidak berkelompok semuanya menyatu dan jalan-jalan bisa rempong pake banget. Terlepas dari personalitas masing-masing wanita, mereka pasti sudah bersama dgn orang yang mereka anggap cocok dan sepemikiran. Di SMA kesayang ku terdapat beberapa “ras” wanita yang kemungkinan banyak juga terdapat di SMA kalian. Aku menamakan berdasarkan apa yang aku liat, so maaf ya. Oke yang pertama : - The Queens Para kelompok yang mengedepankan mode, gaya hidup masa kini, wuih pokoknya kalau mereka menyatu bau harum sudah bisa tercium ke seluruh pojok sekolah. Ini salah satu kelompok yang paling berpengaruh di lingkungan kami. Aku tidak mengatakan mereka menggunakan make up ya, karena kebanyakan para “queens” angkatannku tidak terlalu menor dalam memakai peralatan rias wajah. Mereka memiliki sifat sensitivitas rata-rata paling tinggi diantara kalangan lainnya. Entah para laki-laki banyak menempel pada mereka, tapi aku rasa itu cuman untuk dikatakan “playboy” gara-gara bergaul dengan kelompok ini. Oh ya, apa yang mereka inginkan tentu harus terwujud. Status paling popular di sesaentro sekolah, kecantikan yang terdengar sampai ke sekolah-sekolah tetangga. Seperti ada apa api maka ada air, ada saja kelompok lain yang bisa dikatakan tidak suk atau mungkin “iri” dikarenakan popularitas para queens ini. Meskipun tempramen mereka yang cukup tinggi mereka cukup asik di bawa bercanda. - The Socials Kelompok yang biasa-biasa saja namum memiliki muluut yang ada di balik mukanya, ya you know lah. Ras ini tergolong ras yang santai, tidak memiliki ambisi yang tinggi, dan kadang sedikit berbahaya karena tidak bisa ditebak. Kelompok perempuan ini menyebar banyak di lingkungan sekolah, ya jumlah mereka memang jumlah yang banyak. Sekolah, mengobrol, belajar, tidak diketahui apa yang sebenarnya tersembunyi dari hasrat mereka. Seperti aku bilang di awal, ada api maka ada air, entah dari dulu sampai aku 20 tahun sekarang ini kelompok ini masih “clash” dengan kelompok queens. Pernah suatu saat terjadi perdebatan yang mengeluarkan banyak air mata di kelasku antara kelompok queens dan socials, apa? Mau tau sekarang.. Ah tidak, sudahlah aku akan menyampaikannya pada lain kesempatan. Woiy! Ayo kembali ke konteks! - The Nerds Tidak hanya para lelaki yang memiliki golongan ini coy! Ternyata perempuan juga, memiliki dunia sendiri, dengan fantasy mereka yang terkadang tinggi. The Socials memang kelompok yang sulit di duga, tapi kalau nerds ini memang tidak bisa di tebak. Mereka jumlah yang sedikit sekali, ya mungkin tidak sampai 10 orang. - The Unseen Ras ini bagaikan teratai yang menyendiri, indah, bersih, dan polos. Yap, mungkin itu yang dapat aku gambarkan pada kelompok ini. Mereka bermain di belakang layar, aku rasa kalian para lelaki bisa meliat kecantikan yang benar-benar alami pada kelompok ini. Tidak mau mencari masalah, tidak mau terlibat apapun, fokus pada tujuan, dan yang terpenting, benar-benar gambaran wanita yang pendiam. Masih ada kelompok lain, tapi sungguh, aku tidak bisa mendeskripsikan apapun kepada kelompok yang lain. Kalau aku sih tidak masalah bergaul dengan perempuan manapun. Semuanya asik, semuanya memiliki sisi baik dan buruk, terkecuali the unseen karena aku benar-benar tidak pernah bisa mengetahui mereka sedetil mungkin.

THE JOURNEY

Kamis, 17 Juli 2014

Matahari sudah menunjukan seluruh bagiannya di langit, ini tandanya bahwa segalanya sudah harus siap. Ini akan menjadi sebuah pengalaman pertama yang super, dan tentunya akan sangat dikenang. Rasa takut juga pasti menghantui pikiranku dari malam tadi. Kebiasaan burukku saat menghadapi momen-momen seperti ini adalah gugup berlebihan diikuti sulit tidur dan muntah-muntah. Mungkin sedikit berlebihan, yap terimasajalah, semua orang itu memiliki caranya masing-masing dalam menghadapi sesuatu terutama momen-momen yang dapat membuat hati berdebar. Syukur saja aku sempat tertidur walau hanya setengah malam lamanya. Saat pelajaran bahasa jepang sampai agama islam di kelas tadi juga pikiranku sudah kemana-mana. Aku ragu, tapi ini memang harus dilakukan. Aku dan temanku rijal akan melakukan perjalanan yang cukup berbahaya untuk orang seumuran kami, kami akan pergi menuju kota tetangga, Banjarmasin. Tujuannya? Ya memang ada tujuan dari perjalanan kami, namun itu bukanlah bagian penting disini. Sudah saatnya, kami akan berangkat langsung dari pulang sekolah, ya walaupun berhenti untuk makan siang dan mengisi full tank motor yang akan kami kendarai ke Banjarmasin. Hannya sedikit baju yang kami bawa, maklum kami akan berangkat hari ini dan besok sudah kembali ke Kota Cantik. Ya, aku ke sekolah sudah saja membawa tas yang isinya bukan buku pelajaran melainkan bekal pakaian untuk perjalanan kami hari itu, tasku keliatan gemuk, banyak sih yang bertanya, tapi akan lebih baik tidak ada yang mengetahui kenapa tasku di penuhi dengan pakaian. “Dimana kami akan menginap?” bukanlah masalah penting, aku mempunyai kakek yang tinggal di komplek Karangpaci, Banjarmasin, lokasi yang cukup strategis, lokasi yang ada di jantung metropolis kota tujuan. Perispan lain? Ya mental, kami cumin bermodalkan nekat. Target perjalanan yang ada di pikiranku adalah 4 jam. Aku dan keluarga ku sangat sering pergi ke Banjarmasin, menggunakan mobil pribadi waktu yang di tempuh 4 jam, seharusnya motor bisa lebih cepat karena lebih ramping, namun ini adalah pengalaman pertama, akan lebih baik berhati-hati dan harus realistis. Segala sesuatu bisa terjadi, bahkan keselamatan adalah harga mati. Yang akan mengendarai motor adalah aku, Rijal adalah orang yang serba “aduh aduh aduh”, aku sudah menawar untuk bergantian namun dia mengelak, tidak ada gunanya untuk terus berdebat, hanya akan memakan banyak waktu saja. Sudah, kami berangkat, tujuan pertama adalah pengisian bahan bakar, berbeda di tempat kuliahku, aku lebih suka mengisi bahan bakar di SPBU daripada eceran. Tapi dikarenakan dulu sewaktu masih di kota cantik SPBU antrinya selalu “kurang ajar” aku lebih memilih untuk mengisi di eceran, yap biarpun sedikit mahal paling tidak bisa membuat perjalanan kami lebih cepat tanpa antrian panjang. Kami kebingungan bagaimana jika kehabisan bahan bakar di tengah jalan, jadi kami memutuskan untuk meminjam tangki minyak penjual eceran dan mengembalikan besok saat kami sudah selamat kembali ke kota cantik. Perjalanan belum dapat dimulai, kami harus mengisi perut yang lapar, makan di tengah jalan juga merupakan sebuah opsi namun kadang selera makanku pasti habis gara gara mood di perjalanan. Pilihan jatuh tidak jauh dari tempat kami mengisi minyak eceran. Rumah makan padang, masakan mereka yang akan menjadi bekal energy terakhir sebelum kami menuju provinsi sebelah. Perjalanan sesungguhnya pun dimulai, kami pergi mulai menghilang dari pandangan bundaran burung. Sesampainya di ujung jalan RTA Milono kami perlahan menuju ke kiri, mulai meninggalkan kota kesayangan. Di awal perjalanan tidak ada yang menjadi masalah, aku juga mempunyai teman untuk ngobrol di belakangku, ya Rijal adalah orang yang asik untuk diajak berbicara hal yang sepele. Jalan ini memang familiar, aku hapal jalanan yang akan kami lalui, namun aku belum pernah mengendarai motor dengan mandiri di atasnya. Umur kami juga belum genap 17 tahun, SIM palsu lah salah satu senjata andalan jika Polisi mencium bau kencur dari umur kami. Panasnya terik matahari juga tidak terasa, siang itu aku mulai berpikir kalau hari itu mendukung perjalanan kami. Pohon-pohon berdiri tegak, hembusan angin yang sedikit menggoyankan beberapa rantingnya, terlihat juga bekas kekejaman manusia, tandak hitam daun yang terbakar, masih ada sedikit api yang menyala dari kebakaran hutan yang terjadi beberapa waktu lalu. “Selamat meninggalkan kota Palangkaraya, semoga selamat sampai tujuan”, gapura ini menandakan bahwa babak awal dari perjalanan kami sudah dimulai. Checkpoint pertama sudah kami hampiri, jembatan yang panjang, jembatan tumbang nusa, sebenarnya ini bukanlah jembatan, sejenis fly over darat untuk mempermudah transportasi. Sebelum menaiki jembatan itu rijal minta berhenti untuk membeli air mineral, yap ide bagus, aku juga sudah merasakan haus. Kami kembali meneruskan perjalanan kami, rijal selalu mengingatkanku “hati hati, turunkan gigi kalau ada lobang kurangin keceapan”, aku masih belum terlalu terbiasa menghadapi medan jalan yang lumayan rusak seperti jalan trans Kalimantan ini. Aku kira nilaiku dalam menghadapi lubang di jalan adalah “D”, ya “D”. Kami berada di ujung Tumbang Nusa, sejauh ini perjalanan berjalan sesuai rencana. Tujuan selanjutnya adalah Pulang Pisau. Keberuntungan kami mulai pudar, akibat aku yang tidak menurut dengan perkataan rijal band depan motorku bocor parah, untungnya ada bengkel tepat di depan kami, jadi kami tidak menyeretnya terlalu jauh. Ada 2 kabar yang menunggu kami, kabar gembira dan kabar buruk. Kabar gembiranya tempat reparasi ini buka, dan satu-satunya sebelum kota pulang pisau. Kabar buruknya, tukang reparasinya sedang tidak ada di tempat, tempat ini djaga oleh anak kecil yang mengaku mengerti masalah reparasi ban, juga kota Pulang Pisau masih berada sekitar 18 KM jauhnya dari tempat reparasi ini, Wow, itu mungkin memakan waktu setengah jam jika kami menyeret motor ini, mungkin lebih aku rasa. Di awal anak kecil ini sangat menjajikan menjinakan ban yang tertusuk dan robek akibat keteledoranku. Sekitar jam 2 siang dan kami masih melihat anak kecil ini dengan yakinnya mengotak—atik ban rusak ini. Dia menarik alat pompa gas, cocok saja perkiraanku, kalau tangan seperti dia tidak akan membuat pompa gas itu menyala, akhirnya aku turun tangan baru pompanya mau menyala. Masalah belum selesai, dia tidak bisa mencocokan ban luar dan ban dalam, ayolah ini semakin memakan waktu, untuk menarik pompa gas okelah, tapi masalah ban aku memang tidak mengerti begitu juga rijal. Kami semakin tertahan, aku juga sudah tidak sabaran untuk pergi secepatnya dari tempat ini. Lama-lama aku juga geregetan sama anak kecil yang tidak mengalami kemajuan dalam memperbaiki ban dala. Aduh, kami coba membantu, tapi apa daya kami juga tidak mengerti. Ban luar ku pun semakin terlihat rusak gara-gara kerjaan anak kecil yang berusaha menolong kami ini. Setelah lebih dari satu jam tiket pergi kami dating, orang yang benar-benar mengerti sudah dating, sebelum dia memperbaiki masalah ban kami dia terlebih dahulu mengomel dan meminta maaf kepada kami. Yap, semua terlewati. Kami melanjutkan perjalanan, kami benar-benar tertunda lebih dari 2 jam, target perjalanan kami pun kacau. Kami mengabaikan tempat peristirahatan di Pulang Pisau, bukan tanpa alas an juga, kami sudah mengisi perut kami, kami sudah memiliki bekal melawan dahaga, juga pun yang terpenting waktu kami benar-benar terpotong. Tidak ada yang menarik, jalanan panjang masih terpapar disirami terik matahari yang semakin membuat kilau aspalnya semakin bersinar. Rasa jenuh pun semakin menjadi, aku memilih untuk tidak melakukan pembicaraan dengan rijal, aku rasa rijal pun sama jenuhnya. Setelah melewati kota air Kuala Kapuas kami sampai di gerbang, “Selamat Datang di Provinsi Kalimantan Selatan”, aku masih lega tapi belum puas, yap kami harus melewati Anjir dulu baru sampai ke Banjarmasin. Kami dikejutkan dengan kumpulan orang yang mengerumuni jalan, mereka tertuju ke satu arah, perasaanku dihantui ketakutan, benar saja ada kecelakaan yang baru saja terjadi. Kepala orang yang meninggal hari itu pecah, malang sekali, kami takut hal itu akan terjadi kepada kami. Aku diam, aku rasa rijal juga sama takutnya. Rijal memecah keheningan, “Sudah kita berdoa saja semoga perjalanan kita dilancarkan, sudah sedikit lagi sampai, Bismillah”. Yap kata rijal memang benar, tidak ada lagi kata “lebih baik kita tidak melakukan ini”, kita sudah terlanjur, aku pun memacu gas menuju jalan ke depan, namun dengan perasaan hati-hati atas teguran yang kami lihat barusan. Bensin yang kami beli sebelum melakukan perjalanan akhirnya berguna juga. Namun membawa petaka bagiku, tas yang penuh ini juga menyebarkan bau bensin, aku pergi ke ujung jalan, aku keluarkan tangki kosong dari tasku, aku lambaikan aku bersiap melemparnya sebelum rijal menghentikanku “woiy, kita janji sama orang itu untuk mengembalikannya”, aku menjawab “tasku ini penuh akan bajuku jal, kau liat sekarang semuanya bau bensin, lagipula ini cumin tangki, orang pun tak akan peduli kalau satu tangkinya hilang, bisa juga kita menggantinya menggunakan uang!”, “Jangan! Janji adalah janji” sahut Rijal. Di sini aku semakin kesal, kau pun tidak mau menyimpan tangki ini di tasmu, liat tasmu itu benar-benar cukup. Aku malas melakukan perdebadan, malah akan menambah waktu kami yang kelewatan ini. Akhirnya pukul sekitar setengah 6 maghrib waktu Palangkaraya kami sampai di Handil Bakti, ini menandakan bahwa 10 menit lagi kita resmi memasuki Kayutangi dan Banjarmasin. Perjalanan yang lelah. Kami menuju rumah kakekku, di sana kami dipersilahkan. Penat tidak terasa, itu malam minggu akhirnya kami menuju jalan manggis, aku meninggalkan rijal di pasar buah, dia awalnya menolak tapi aku harus menyelesaikan urusanku di sini, kali ini dia harus menuruti kemauanku. Yap aku meninggalkannya tidak lama, urusanku tidak terlalu penting untuk dipaparkan di sini sobat. Aku kembali ke pasar buah untuk menjemput rijal. Mukanya masam, tampaknya dia kecewa terhadap sifatku. Yap apaboleh buat, kali ini kau yang harus menurut dan kecewa paparku dalam hati. Kami menuju pusat kota, jalan Ahmad Yani ke Duta Mall, sialnya aku cuman membawa uang 50 ribu, ini cukup untuk makan dan isi gas. Aku juga tidak terlalu suka berbelanja, barang yang aku mau juga sulit didapatkan di tempat seperti mall. Setelah mengelilingi matahari dan rijal mendapatkan barangnya berupa baju abjad dan huruf kami pergi. Kami tidak peduli lagi dimana harus makan, pilihan jatuh ke warung tenda di pinggiran Ahmad Yani. Setelah itu kami pergi untuk beristirahat di tempat kakekku. Di sini aku melakukan kesalahan bodoh sebagai keluarganya, aku tidak menggunakan ijin menggunakan telepon genggam, aku ingin mengabari kekasihku waktu itu yang juga kebetulan sekelas dengan rijal. Aku dimarahi dan rijal semakin tidak enak. Akhirnya kami tidur, tapi aku benar-benar tidak bisa tidur malam itu. Adzan subuh berkumandang, target kami pulang sepagi-paginya, tapi aku harus menemui kakek untuk meminta maaf atas kelancanganku malam tadi. Aku melihat kamarnya kosong, akhirnya aku pergi ke masjid untuk menunaikan panggilanku. Yap aku bertemu kakekku di situ. Dia menyuruhku untuk menunggunya di rumah sehabis subuh. Aku meminta maaf sesampai dia dating, kami pamit namun dia masih mau berbicara dengan kami, tidak sopan kalau menolaknya., apalagi pembantunya sudah menyuguhkan roti dan the hangat. Dia menceramahi ku tentang banyak hal, sopan satun, etika yang aku benar-benar masih payah, sampai silsilah/suku keluarga yang benar-benar memakan waktu lama. Akhirnya kami pergi sekitar pukul 8 banjarmasin, artinya pukul 7 pagi waktu Palangkaraya. Selamat tinggal Banjarmasin, terimakasih atas pelajaran berharga yang engkau berikan.

THE DUDES IN LOVE

Kamis, 10 Juli 2014

"Sahabatku, warna hidupku", yap kutipan yang cocok untuk menggambarkan sebuah arti dari "Sahabat". Kalian semua pasti memiliki yang namanya teman baik atau sahabat. Orang yang mau saja di rugikan oleh kita, orang yang sangat loyal terhadap kita, orang yang ada bersama kita di saat baik dan buruk. Memang, yang namanya teman itu beragam jenisnya, tidak mudah untuk mencari orang yang cocok dengan pemikiran kita. Aku pun sangat berterimakasih karena aku sudah bertemu dengan pria-pria ini hahahaha. Semua dari kami memang memiliki banyak problem, yap masalah cinta. Ada yang masuk ke cinta segitiga antar pertemanan kami, ada yang ngomongnya "aku berhenti jak sama yang model kayagituan" eh malah makan omongan sendiri, ada juga yang bodo amat sama yang namanya cinta, ada juga yang berani ngejual nama teman supaya ngedapatin nomer cewek. Untuk aku sendiri? Masalah cintaku? Pfftttttttttttttttttt... Kalian gak bakal tertarik. HA. Oke, sebenarnya banyak sekali hal yang menarik yang bisa diambil dari kelakuan mereka, tapi untuk menarik perhatian pembbaca yang notabene para remaja-remaja "bulletproof LOVE" kita bakal bahas romansa tragis dari kisah cinta mereka. OKE! Nugraha Adhi, yap bisa di bilag pria kekar ini penasihat yang baik ketika teman-teman lainnya sedang dihadapin masalah. Adhi sering banget tuh yang namanya nge"shelter" di rumahku kalo lagi ada masalah, kita juga saling sharing apa yang kita hadapin. Mulai dari masalah gak jelas sampai masalah yang jelas. Adhi dari jaman bocah ingusan SMP nih dari dulu tuh nyimpan hati ke cewe manis yang inisialnya "KINAN", aku hitung-hitung sih sudah banyak banget perjuangan si Adhi nih buat ngedapatin hati si Kinan. Malam itu malam Valentine, Adhi punya plan yang oke banget nih, dia bawa coklat terbesar di Kota ini waktu itu, pergi bersama 2 temannya yang lain, sementara 2 temannya tadi sembunyi di kios yang ada di depan gapura gerbang menuju rumahnya si Kinan si Adhi, dengan bermodalkan 2 senjata mautnya NEKAT dan Batangan Coklat pergi ke depan rumah Kinan. Suasana sepi, ya maklum saja waktu itu jam sudah menunjukkan pukul (hampir) 22.00 WIB. Aku rasa cewe SMA sekelas Kinan memang wajar gak boleh keluar rumah diatas jam segitu. Sialnya lagi nih ya, malam itu hujan turun, kayaknya sih (memang bukan kayaknya!) langit gak ngedukung Adhi malam itu. Sial memang, akhirnya dia bersama 2 temannya pulang, kondisi basah kuyup dan coklat yang rasanya hambar di mulut Adhi dia berikan ke 2 temannya. Rasa kekecewaan Adhi yang satu ini memang belum bisa aku rasakan. Dia akhirnya menyerah, dan ada seorang perempuan yang waktu itu sekelas dengannya mendekati Adhi, yang akhirnya berujung pacaran. Ini bukan hal yang oke sih, usut punya usut ternyata kembali ke kejadian tragis malam itu si Kinan itu pengen pake banget keluar dari rumah dan nyamperin Adhi, dan ternyata Kinan itu sudah ilfeel sama Adhi kenapa dia malah jadian sama cewek lain. OH! Kalo yang satu itu aku paham betul apa yang dirasakan Adhi. Memang sih kadang kita gak bisa ngeliat kebenaran yang benar itu yang mana, kadang kita juga gak bisa ngerti apa maunya 2 hati yang berbeda itu. Kadang hati itu juga bikin Otak jadi bodoh. Muhammad Ramadhan. "Coy, udahan aja kenapa sih? Mau sampai kapan kalian mempertahankan hubungan yang kemungkinannya 90% berakhir juga diujung gara-gara kalian beda?" aku masih ingat perkataan yang dilontarkan ke Madan, dia hanya diam kaku tidak bisa menjawab pertanyaanku. Yasudahlah, daripada larut lebih baik kita lanjutkan saja kegiatan futsal kita ini. Tiba-tiba Madan membuka mulutnya "Iya jak, sudah lah aku juga cape, aku tau hubungan beda ini berat buat dijalanin, lebih baik aku Move On". Ya, melihat sedikit ada semnangat yang terpancar dari temanku juga membuat aku senang, kasian juga melihat dia banting tulang untuk hal yang sudah pasti rubuh pada ujung ceritanya. Hari berganti, beberapa hari aku belum sempat ketemu sama Madan, kami pun bertemu sewaktu dia berkunjung ke depan kelasku. "Jak, Dhi, aku pacaran sama anak kelasku?". Ya angsung saja kami tanya "SIAPA WOIY?". "Jesse". Hahahahahahahaha, orang ini memang gak konsisten. Yasudahlah, mau gimana lagi, kita sudah kelas 3 SMA juga mau diapain lagi biar dia milih apa yang jadi pilihannya. Yang paling bikin jengkel itu si Madan ini malah lebih (selalu) mementingkan si Jese daripada kegiatan kami di lomba futsal. Ujungnya sudah bisa ketebak kan kayagimaa cerita mereka? Pfftttttttt.. Rizal Aminullah. Dia melangkah menyusuri tiap tiang-tiang yang tertancap di depan ruang-ruang kelas yang dilaluinya, entah dia merasa gugup atau biasa saja mana kita tau. Sebagai salah satu teman akrabnya aku memang gak bisa menebak apa isi pemikiran dari orang ini. Dia terus maju dengan wajah yang biasa saja, dengan baju SMAnya yang sudah kusam akibat keringatnya, maklum saja itu sudah hampir waktu bel terakhir di sekolah berbunyi.Dia tetap memandang kedepan, sesekali dia menuju kerumunan orang yang mengelu-elukan namanya. Dia juga menyapa mereka yang ada di hadapannya. Sempat orang mengajak dia untuk berhenti sejenak untuk bermain badminton. Tapi dia kembali teringat dengan tujuan awalnya, meminta maaf ke orang yang mengajaknya bermain badminton. "Ada urusan yang harus di selesaikan". Dia kembali maju, dari tanah lapang berbatu yang kini berubah menjadi tangga semen yang membawanya ke depan pintu kelasnya, sparta classipada. Ruangan kosong diliatnya waktu itu, targetnya sudah keliatan, dia mengatakan sesuatu dengan lantang yang memecahkan keheningan, "KAJOL AKU SUKA DENGAN KAMU", semua memandangnya, dugaannya bahwa kelas sedang sepi salah, ternyata ada Asrie sahabat Kajol, mereka tertawa "Cie Kajol", sebelum mengetahui apa respon dari Kajol Rizal pun langsung pergi. Memang orang yang sulit buat dipahami. Muhammad Akmal. "tenooooooooooooooot" suara yang gak asing lagi untuk kami, sudah saatnya pulang. Aku melihat akmal memilih rute yang bukan ke arah rumahnya, entah apa yang dia lakukan, pergi ke tempat keluarganya mungkin. Di tempat lain, seorang pria putih gempal dibalitu dengan jaket semi jas dan helm GM hitam, pergi mengendarai motor beat hitam ke arah yang asing. Pandangannya tertuju pada satu arah, kaku, seakan tidak mau kehilangan sesuatu. Untuk kali ini dia harus fokus jangan sampai kehilangan. Seketika dia gelisah saat pandangannya mulai hilang, seketika ketika traffic light memancarkan warna merah dia merasa bahagia, dia juga harus jaga jarak. Akhirnya dia mengurangi kecepatannya, sedikit tidak kelihatan tapi pasti, akhirnya dia tau dimana rumah sang Pujaan hatinya. Bukan hari itu saja, semenjak dia tau dimana rumah sang idaman dia selalu menyempatkan entah sehabis sekolah berakhir, sebelum belajar kelompok atau iseng saja melalui rumah sang Idaman. Oh antara romantis atau kurang kerjaan. Syaldie Khairi. "Aku boleh jujur gak? Aku suka sama teman sekelas kita, inisialnnya "PERMATA"". Yap, mulai di saat itu kami semua saling terbuka kepada siapa kami saling jatuh cinta, aku tau siapa yang mereka dambakan, dan mereka juga tau siapa yang aku suka. Namun kisah yang satu ini benar-benar berat. Malam itu kami ke tempat biasanya kami menghabiskan waktu, Nasi Goreng Bunda, membicarakan hal-hal yang sangat sangat tidak penting. Malam itu Syaldie berani angkat bicara, "Aku mau menemmbak si Permata", wow kami shock, persiapan awal memang kami siapkan, aku sempat bertanya ke teman cewek yang memang mengerti tentang perasaan. Hari yang di tunggu tiba juga, pulang sekolah selepas pelajaran melelahkan dari Ibu Nurul si syaldie mengajak Permata untuk berbicara berdua. Kami cuman senyam senyum saja melihat keberanian si Syaldie. Aku juga takut apa dia bisa menghandle perasaannya kalau jawaban yang di berikan Permata jauh dari yang dia harapkan. Benar saja, dia menyuruh kami pulang duluan, perasaan memang gak enak, baru saja aku beristirahat sebelum kami harus ke kolam renang untuk mengikuti kegiatan bulanan sekolah aku mendapatkan text dari dia "Mungkin memang aku ditakdirkan untuk tidak dengan siapa-siapa, untuk sepi". Wow, kasian sekali, firasat buruk memang kurang ajar, memang lebih sering terjadi daripada firasat baik. Okelah, lebih baik kami cepat berkumpul bersama untuk menenangkan Syaldie. Sesampainya di kolam renang mukanya tidak karuan, ada ada saja yang dia katakan, "Ayo kita minum alkohol malam ini", "Kayaknya enak tuh terjun dari atas gedung". Kami ada di sebelahnya dia malah menjauh benar-benar terlihat kalau dia butuh waktu buat sendiri. Setelah selang beberapa waktu banyak orang yang tau kalau si Permata ini juga suka sama temanku, si Adhi. Di sini persahabatn kami benar-benar di uji, aku tidak tau siapa yang salah, si Permata dan Adhi sering sekali bersepedaan berdua, hal ini sudah menjadi rahasia umum. "Aku cuman nganggap teman, aku diajak, masa iya aku nolak", waduh, ini yang sulit. Di sisi lain si syaldie menyimpan rasa marah yang keliatan namun tidak bisa dia ungkapkan ke Adhi. Kalau dilihat dari perkataan Adhi memang benar, cuman teman, kalau dilihat dari rasa cemburu Syaldie juga manusiawi. Dilihat dari sudut pandang Permata gak ada yang salah juga, dia bebas mengajak siapa aja untuk diajak jalan. ACHMAD REZA KURNIAWAN. Pfttttttttttttt, postingan sebelum ini sudah cukup kan menceritakan cerita Cinta ku di SMA? Masih kurang? Aduh. Gak bakal menarik kok! Hahahaha. Oke guys, cinta itu memang banyak UPSIDE DOWNnya, sah-sah saja kalian takut dengan yang namanya cinta, kalau kalain masih belum mengerti. Tapi dibalik semua itu ada cerita, cerita yang membawa kalian ke akhir yang gak bakal kalian duga. Jangan pernah menyesali, dan jangan pernah rusak perjuanganmu coy!

LOVE... AH! LOVE..

Rabu, 04 Juni 2014

Ah hari itu tiba juga, semua penat yang sudah aku rasakan beberapa bulan silam pasti terlupakan, atau mungkin bertambah, yap bedanya penat yang akan aku rasakan setelah ini adalah penat “bahagia”. Semua barang perlengkapan dan peralatan juga sudah aku siapkan dari pagi tadi, sebenarnya bukan aku sendiri yang berinisiatif untuk berkemas. Ibuku sudah marah-marah sejak acara Big Brother di tayangkan kemarin malam. Barang lengkap, sudah rapi, sudah memakai jaket jeans kesukaan, yap mari pergi ke tempat dimana aku dan anak-anak lainnya haru berkumpul. Suasana sudah jauh lebih ramai dari yang ku perkirakan, jumlahnya pun banyak sekali, hanya beberapa rombongan kelas saja yang anggotanya sedikit apatis. Aku langsung menyeret kaki ku menyisakan debu yang berterbangan, pergi menuju tempat semua teman-temanku berkumpul, kami masih bersendau gurau seperti biasa. Ya, banyak hal yang kami bahas, perempuan (aku rasa bagi kaum pria hal ini memang santapan wajib) sampai hal apa yang harus di lakukan ketika menginjakan kaki ke tempat tujuan. Sejauh itu tidak ada yang menarik perhatianku, semuanya terasa sama, yang sedikit membuat perbedaan hari itu semua memakai pakaian bebas, ada pula anak perempuan yang berdandan ala tante tante, maksudku, ayolah ini bukan pergi ke tempt shopping. Lagipula kalian ingin menarik perhatian lawan jenis dengan berpakaian seperti itu? Plis hargai diri kalian sendiri dulu. Kami semua berkumpul seiring suara speaker yang penggunanya sudah tidak asing lagi. Guru olahraga kami, Ibu Suwarni, bagi sebagian temanku Bu Suwarni agak sedikit membuat kita tidak betah di pelajaran olah jasmaninya, tapi menurutku ibu Suwarni adalah sosok guru yang baik, ideal bagi kebanyakan siswa. Peraturan dan tata tertib selama mengikuti retreat yang berlangsung 3 malam 2 hari lamanya. Rombongan kelas kami pun diarahkan ke Bus kami masing-masing. Perjalanan yang di tempuh mungkin bagi sebagian teman-teman mengasyikan, bersendau gurau bersama sampai tidur. Aku? Ah inilah perjalanan darat pertama yang paling tidak kusuka. Duduk di kursi yang tida mempunyai senderan? Aku rasa kalian juga akan “bahagia” jika merasakannya, ya kan? Bus 3 yang aku tumpangi mengalami masalah, kami harus menunggu sekitar 1 jam untukperbaikan. Aku melihat para gadis-gadis menyempatkan mengabadikan kecantikan (menurut mereka sih) di kamera dengan berbagai gaya dan berbagai background. Masih, masih belum ada yang menarik perhatianku, yang aku tunggu hanyalah pendakian bukit. Pantai? Di jadwal memang ada pergi ke pantai, tapi pantai sudah terlalu biasa, apalagi sewaktu kecil kami sekeluarga sering sekali ke pantai itu. Wow? Inikah tempatnya? Pandanganku lurus kedepan, bayanganku tentang tempat penginapan kami jauh melenceng. Tempatnya lumayan indah, terdapat pendopo yang bagus. Kuliat sekelilingku, semua bus sudah bersantai di parkiran mereka kosong tampa penumpang, ya kecuali para supir-supir bus dan crewnya. Halah crew kaya crew band aja. Semua anak laki-laki langsung berpencar, tapi kebanyakan bermain bola di halaman yang luas, aku juga gak mau ketinggalan. Kita melenceng sedikit ya, seumur hidup aku orang yang agak kurang percaya sama yang namanya CINTA. Iya, aku memang pernah pacaran, bukannya aku baj*ngan, tp persepsi ku tentang hal yang begituan masih jauh. Aku juga sering menertawakan orang yang bilang mereka jatuh cinta. Ya, menurutku orang yang tepat itu pasti datang, tapi tidak sekarang, maksudku, ayolah masih muda, masih banyak yang lebih penting daripada CINTA. Namun malam itu benar-benar malam magis, ini mengubah pandangan ku tentang hal rasanya ini campur aduk kaya permen nano-nano, kaya warna pelangi, kaya bau makanan, kaya bau badan, kaya bau masakan ibu, ya pokoknya CINTA itu benar-benar rasanya gak bisa di duga. Malam itu kami dikumpulkan untuk melakukan sharing, pentas seni dan lain-lain. Masih belum ada yang menarik perhatian, penampilan anak-anak juga tidak terlalu keren dan bagus, semua bertepuk tangan. Yang aku pedulikan hanyalah “ayo cepat tidur, ayo kita naik bukit”. Selang beberapa acara sampai ke penampilan temanku satu ekskul, dia menampilkan pertunjukan sulap. Baru kali ini sesuatu menarik perhatianku, bukan sulapnya tentu saja. Dia menarik salah satu penonton, arahnya tertuju pada seorang perempuan dengan paras kucel, lesu, kusam. Aku heran kenapa dia tidak memperbaiki penampilan, hampir semua perempuan di sana berdandan sebelum acara malam ini di mulai. Matanya agak sipit, rambut hitam lurus, belah ke kiri, mengenakan kalung yang aku rasa tertulis namanya, sedikit keliatan telinganya keluar dari celah yang dibuat rambutnya, mukanya agak sedikit mencerminkan kalo dia orang yang pendiam. Ketika di tarik temanku untuk berpartisipasi dengan sulapnya dia agak sedikit menolak. Yap, sulap temanku benar-benar gagal bersama perempuan ini. Aku terus memperhatikannya, sesekali ketika dia memalingkan muka aku buang pandanganku. Yap, jangtungku gak karuan, seketika dia tersenyum, saat itu juga aku merasa aku keluar dari tubuhku dan terbang. Benar-benar ciptaan Tuhan yang indah. Yang aku takutkan : 1. Dia berbeda (kepercayaan), ya orang dengan paras seperti dia di tempat tinggalku kebanyakan berbeda. 2. Dia punya pacar. 3. Aku sudah OUT, ya aku rasa dia punya kriteria sendiri untuk laki-laki idamannya. Pentas seni selanjutnya benar-benar aku acuhkan, aku tetap memperhatikan gerak geriknya. Aku memperhatikan baju merah muda yang dia kenakan malam itu. Selepas acara au masih belum berani menanyakan pada temanku tentang perempuan ini, itu akan merusak prinsip aku sendiri. Malam itu perasaanku campur aduk, aku di buat tidak bisa tidur. Yap inilah saat aku pertama kalinya jatuh hati pada seorang perempuan. Mungkin cerita tentang perempuan ini akan aku singgung di postingan lain, mungkin sehabis ini aku membahas dia lagi, sebut saja “E”. Yap “E” cuman aku sendiri kenapa inisial ini aku labelkan. Mungkin juga postingan selanjutnya jauh dari konteks ini, tentang hal lain. Buenas dias amigos!

My Musics


MusicPlaylistRingtones
Create a playlist at MixPod.com