Matahari sudah menunjukan seluruh bagiannya di langit, ini tandanya bahwa segalanya sudah harus siap. Ini akan menjadi sebuah pengalaman pertama yang super, dan tentunya akan sangat dikenang. Rasa takut juga pasti menghantui pikiranku dari malam tadi. Kebiasaan burukku saat menghadapi momen-momen seperti ini adalah gugup berlebihan diikuti sulit tidur dan muntah-muntah. Mungkin sedikit berlebihan, yap terimasajalah, semua orang itu memiliki caranya masing-masing dalam menghadapi sesuatu terutama momen-momen yang dapat membuat hati berdebar. Syukur saja aku sempat tertidur walau hanya setengah malam lamanya. Saat pelajaran bahasa jepang sampai agama islam di kelas tadi juga pikiranku sudah kemana-mana. Aku ragu, tapi ini memang harus dilakukan. Aku dan temanku rijal akan melakukan perjalanan yang cukup berbahaya untuk orang seumuran kami, kami akan pergi menuju kota tetangga, Banjarmasin. Tujuannya? Ya memang ada tujuan dari perjalanan kami, namun itu bukanlah bagian penting disini. Sudah saatnya, kami akan berangkat langsung dari pulang sekolah, ya walaupun berhenti untuk makan siang dan mengisi full tank motor yang akan kami kendarai ke Banjarmasin. Hannya sedikit baju yang kami bawa, maklum kami akan berangkat hari ini dan besok sudah kembali ke Kota Cantik. Ya, aku ke sekolah sudah saja membawa tas yang isinya bukan buku pelajaran melainkan bekal pakaian untuk perjalanan kami hari itu, tasku keliatan gemuk, banyak sih yang bertanya, tapi akan lebih baik tidak ada yang mengetahui kenapa tasku di penuhi dengan pakaian. “Dimana kami akan menginap?” bukanlah masalah penting, aku mempunyai kakek yang tinggal di komplek Karangpaci, Banjarmasin, lokasi yang cukup strategis, lokasi yang ada di jantung metropolis kota tujuan. Perispan lain? Ya mental, kami cumin bermodalkan nekat. Target perjalanan yang ada di pikiranku adalah 4 jam. Aku dan keluarga ku sangat sering pergi ke Banjarmasin, menggunakan mobil pribadi waktu yang di tempuh 4 jam, seharusnya motor bisa lebih cepat karena lebih ramping, namun ini adalah pengalaman pertama, akan lebih baik berhati-hati dan harus realistis. Segala sesuatu bisa terjadi, bahkan keselamatan adalah harga mati. Yang akan mengendarai motor adalah aku, Rijal adalah orang yang serba “aduh aduh aduh”, aku sudah menawar untuk bergantian namun dia mengelak, tidak ada gunanya untuk terus berdebat, hanya akan memakan banyak waktu saja. Sudah, kami berangkat, tujuan pertama adalah pengisian bahan bakar, berbeda di tempat kuliahku, aku lebih suka mengisi bahan bakar di SPBU daripada eceran. Tapi dikarenakan dulu sewaktu masih di kota cantik SPBU antrinya selalu “kurang ajar” aku lebih memilih untuk mengisi di eceran, yap biarpun sedikit mahal paling tidak bisa membuat perjalanan kami lebih cepat tanpa antrian panjang. Kami kebingungan bagaimana jika kehabisan bahan bakar di tengah jalan, jadi kami memutuskan untuk meminjam tangki minyak penjual eceran dan mengembalikan besok saat kami sudah selamat kembali ke kota cantik. Perjalanan belum dapat dimulai, kami harus mengisi perut yang lapar, makan di tengah jalan juga merupakan sebuah opsi namun kadang selera makanku pasti habis gara gara mood di perjalanan. Pilihan jatuh tidak jauh dari tempat kami mengisi minyak eceran. Rumah makan padang, masakan mereka yang akan menjadi bekal energy terakhir sebelum kami menuju provinsi sebelah. Perjalanan sesungguhnya pun dimulai, kami pergi mulai menghilang dari pandangan bundaran burung. Sesampainya di ujung jalan RTA Milono kami perlahan menuju ke kiri, mulai meninggalkan kota kesayangan. Di awal perjalanan tidak ada yang menjadi masalah, aku juga mempunyai teman untuk ngobrol di belakangku, ya Rijal adalah orang yang asik untuk diajak berbicara hal yang sepele. Jalan ini memang familiar, aku hapal jalanan yang akan kami lalui, namun aku belum pernah mengendarai motor dengan mandiri di atasnya. Umur kami juga belum genap 17 tahun, SIM palsu lah salah satu senjata andalan jika Polisi mencium bau kencur dari umur kami. Panasnya terik matahari juga tidak terasa, siang itu aku mulai berpikir kalau hari itu mendukung perjalanan kami. Pohon-pohon berdiri tegak, hembusan angin yang sedikit menggoyankan beberapa rantingnya, terlihat juga bekas kekejaman manusia, tandak hitam daun yang terbakar, masih ada sedikit api yang menyala dari kebakaran hutan yang terjadi beberapa waktu lalu. “Selamat meninggalkan kota Palangkaraya, semoga selamat sampai tujuan”, gapura ini menandakan bahwa babak awal dari perjalanan kami sudah dimulai. Checkpoint pertama sudah kami hampiri, jembatan yang panjang, jembatan tumbang nusa, sebenarnya ini bukanlah jembatan, sejenis fly over darat untuk mempermudah transportasi. Sebelum menaiki jembatan itu rijal minta berhenti untuk membeli air mineral, yap ide bagus, aku juga sudah merasakan haus. Kami kembali meneruskan perjalanan kami, rijal selalu mengingatkanku “hati hati, turunkan gigi kalau ada lobang kurangin keceapan”, aku masih belum terlalu terbiasa menghadapi medan jalan yang lumayan rusak seperti jalan trans Kalimantan ini. Aku kira nilaiku dalam menghadapi lubang di jalan adalah “D”, ya “D”. Kami berada di ujung Tumbang Nusa, sejauh ini perjalanan berjalan sesuai rencana. Tujuan selanjutnya adalah Pulang Pisau. Keberuntungan kami mulai pudar, akibat aku yang tidak menurut dengan perkataan rijal band depan motorku bocor parah, untungnya ada bengkel tepat di depan kami, jadi kami tidak menyeretnya terlalu jauh. Ada 2 kabar yang menunggu kami, kabar gembira dan kabar buruk. Kabar gembiranya tempat reparasi ini buka, dan satu-satunya sebelum kota pulang pisau. Kabar buruknya, tukang reparasinya sedang tidak ada di tempat, tempat ini djaga oleh anak kecil yang mengaku mengerti masalah reparasi ban, juga kota Pulang Pisau masih berada sekitar 18 KM jauhnya dari tempat reparasi ini, Wow, itu mungkin memakan waktu setengah jam jika kami menyeret motor ini, mungkin lebih aku rasa. Di awal anak kecil ini sangat menjajikan menjinakan ban yang tertusuk dan robek akibat keteledoranku. Sekitar jam 2 siang dan kami masih melihat anak kecil ini dengan yakinnya mengotak—atik ban rusak ini. Dia menarik alat pompa gas, cocok saja perkiraanku, kalau tangan seperti dia tidak akan membuat pompa gas itu menyala, akhirnya aku turun tangan baru pompanya mau menyala. Masalah belum selesai, dia tidak bisa mencocokan ban luar dan ban dalam, ayolah ini semakin memakan waktu, untuk menarik pompa gas okelah, tapi masalah ban aku memang tidak mengerti begitu juga rijal. Kami semakin tertahan, aku juga sudah tidak sabaran untuk pergi secepatnya dari tempat ini. Lama-lama aku juga geregetan sama anak kecil yang tidak mengalami kemajuan dalam memperbaiki ban dala. Aduh, kami coba membantu, tapi apa daya kami juga tidak mengerti. Ban luar ku pun semakin terlihat rusak gara-gara kerjaan anak kecil yang berusaha menolong kami ini. Setelah lebih dari satu jam tiket pergi kami dating, orang yang benar-benar mengerti sudah dating, sebelum dia memperbaiki masalah ban kami dia terlebih dahulu mengomel dan meminta maaf kepada kami. Yap, semua terlewati. Kami melanjutkan perjalanan, kami benar-benar tertunda lebih dari 2 jam, target perjalanan kami pun kacau. Kami mengabaikan tempat peristirahatan di Pulang Pisau, bukan tanpa alas an juga, kami sudah mengisi perut kami, kami sudah memiliki bekal melawan dahaga, juga pun yang terpenting waktu kami benar-benar terpotong. Tidak ada yang menarik, jalanan panjang masih terpapar disirami terik matahari yang semakin membuat kilau aspalnya semakin bersinar. Rasa jenuh pun semakin menjadi, aku memilih untuk tidak melakukan pembicaraan dengan rijal, aku rasa rijal pun sama jenuhnya. Setelah melewati kota air Kuala Kapuas kami sampai di gerbang, “Selamat Datang di Provinsi Kalimantan Selatan”, aku masih lega tapi belum puas, yap kami harus melewati Anjir dulu baru sampai ke Banjarmasin. Kami dikejutkan dengan kumpulan orang yang mengerumuni jalan, mereka tertuju ke satu arah, perasaanku dihantui ketakutan, benar saja ada kecelakaan yang baru saja terjadi. Kepala orang yang meninggal hari itu pecah, malang sekali, kami takut hal itu akan terjadi kepada kami. Aku diam, aku rasa rijal juga sama takutnya. Rijal memecah keheningan, “Sudah kita berdoa saja semoga perjalanan kita dilancarkan, sudah sedikit lagi sampai, Bismillah”. Yap kata rijal memang benar, tidak ada lagi kata “lebih baik kita tidak melakukan ini”, kita sudah terlanjur, aku pun memacu gas menuju jalan ke depan, namun dengan perasaan hati-hati atas teguran yang kami lihat barusan. Bensin yang kami beli sebelum melakukan perjalanan akhirnya berguna juga. Namun membawa petaka bagiku, tas yang penuh ini juga menyebarkan bau bensin, aku pergi ke ujung jalan, aku keluarkan tangki kosong dari tasku, aku lambaikan aku bersiap melemparnya sebelum rijal menghentikanku “woiy, kita janji sama orang itu untuk mengembalikannya”, aku menjawab “tasku ini penuh akan bajuku jal, kau liat sekarang semuanya bau bensin, lagipula ini cumin tangki, orang pun tak akan peduli kalau satu tangkinya hilang, bisa juga kita menggantinya menggunakan uang!”, “Jangan! Janji adalah janji” sahut Rijal. Di sini aku semakin kesal, kau pun tidak mau menyimpan tangki ini di tasmu, liat tasmu itu benar-benar cukup. Aku malas melakukan perdebadan, malah akan menambah waktu kami yang kelewatan ini. Akhirnya pukul sekitar setengah 6 maghrib waktu Palangkaraya kami sampai di Handil Bakti, ini menandakan bahwa 10 menit lagi kita resmi memasuki Kayutangi dan Banjarmasin. Perjalanan yang lelah. Kami menuju rumah kakekku, di sana kami dipersilahkan. Penat tidak terasa, itu malam minggu akhirnya kami menuju jalan manggis, aku meninggalkan rijal di pasar buah, dia awalnya menolak tapi aku harus menyelesaikan urusanku di sini, kali ini dia harus menuruti kemauanku. Yap aku meninggalkannya tidak lama, urusanku tidak terlalu penting untuk dipaparkan di sini sobat. Aku kembali ke pasar buah untuk menjemput rijal. Mukanya masam, tampaknya dia kecewa terhadap sifatku. Yap apaboleh buat, kali ini kau yang harus menurut dan kecewa paparku dalam hati. Kami menuju pusat kota, jalan Ahmad Yani ke Duta Mall, sialnya aku cuman membawa uang 50 ribu, ini cukup untuk makan dan isi gas. Aku juga tidak terlalu suka berbelanja, barang yang aku mau juga sulit didapatkan di tempat seperti mall. Setelah mengelilingi matahari dan rijal mendapatkan barangnya berupa baju abjad dan huruf kami pergi. Kami tidak peduli lagi dimana harus makan, pilihan jatuh ke warung tenda di pinggiran Ahmad Yani. Setelah itu kami pergi untuk beristirahat di tempat kakekku. Di sini aku melakukan kesalahan bodoh sebagai keluarganya, aku tidak menggunakan ijin menggunakan telepon genggam, aku ingin mengabari kekasihku waktu itu yang juga kebetulan sekelas dengan rijal. Aku dimarahi dan rijal semakin tidak enak. Akhirnya kami tidur, tapi aku benar-benar tidak bisa tidur malam itu. Adzan subuh berkumandang, target kami pulang sepagi-paginya, tapi aku harus menemui kakek untuk meminta maaf atas kelancanganku malam tadi. Aku melihat kamarnya kosong, akhirnya aku pergi ke masjid untuk menunaikan panggilanku. Yap aku bertemu kakekku di situ. Dia menyuruhku untuk menunggunya di rumah sehabis subuh. Aku meminta maaf sesampai dia dating, kami pamit namun dia masih mau berbicara dengan kami, tidak sopan kalau menolaknya., apalagi pembantunya sudah menyuguhkan roti dan the hangat. Dia menceramahi ku tentang banyak hal, sopan satun, etika yang aku benar-benar masih payah, sampai silsilah/suku keluarga yang benar-benar memakan waktu lama. Akhirnya kami pergi sekitar pukul 8 banjarmasin, artinya pukul 7 pagi waktu Palangkaraya. Selamat tinggal Banjarmasin, terimakasih atas pelajaran berharga yang engkau berikan.
THE DUDES IN LOVE
"Sahabatku, warna hidupku", yap kutipan yang cocok untuk menggambarkan sebuah arti dari "Sahabat". Kalian semua pasti memiliki yang namanya teman baik atau sahabat. Orang yang mau saja di rugikan oleh kita, orang yang sangat loyal terhadap kita, orang yang ada bersama kita di saat baik dan buruk. Memang, yang namanya teman itu beragam jenisnya, tidak mudah untuk mencari orang yang cocok dengan pemikiran kita. Aku pun sangat berterimakasih karena aku sudah bertemu dengan pria-pria ini hahahaha. Semua dari kami memang memiliki banyak problem, yap masalah cinta. Ada yang masuk ke cinta segitiga antar pertemanan kami, ada yang ngomongnya "aku berhenti jak sama yang model kayagituan" eh malah makan omongan sendiri, ada juga yang bodo amat sama yang namanya cinta, ada juga yang berani ngejual nama teman supaya ngedapatin nomer cewek. Untuk aku sendiri? Masalah cintaku? Pfftttttttttttttttttt... Kalian gak bakal tertarik. HA. Oke, sebenarnya banyak sekali hal yang menarik yang bisa diambil dari kelakuan mereka, tapi untuk menarik perhatian pembbaca yang notabene para remaja-remaja "bulletproof LOVE" kita bakal bahas romansa tragis dari kisah cinta mereka. OKE! Nugraha Adhi, yap bisa di bilag pria kekar ini penasihat yang baik ketika teman-teman lainnya sedang dihadapin masalah. Adhi sering banget tuh yang namanya nge"shelter" di rumahku kalo lagi ada masalah, kita juga saling sharing apa yang kita hadapin. Mulai dari masalah gak jelas sampai masalah yang jelas. Adhi dari jaman bocah ingusan SMP nih dari dulu tuh nyimpan hati ke cewe manis yang inisialnya "KINAN", aku hitung-hitung sih sudah banyak banget perjuangan si Adhi nih buat ngedapatin hati si Kinan. Malam itu malam Valentine, Adhi punya plan yang oke banget nih, dia bawa coklat terbesar di Kota ini waktu itu, pergi bersama 2 temannya yang lain, sementara 2 temannya tadi sembunyi di kios yang ada di depan gapura gerbang menuju rumahnya si Kinan si Adhi, dengan bermodalkan 2 senjata mautnya NEKAT dan Batangan Coklat pergi ke depan rumah Kinan. Suasana sepi, ya maklum saja waktu itu jam sudah menunjukkan pukul (hampir) 22.00 WIB. Aku rasa cewe SMA sekelas Kinan memang wajar gak boleh keluar rumah diatas jam segitu. Sialnya lagi nih ya, malam itu hujan turun, kayaknya sih (memang bukan kayaknya!) langit gak ngedukung Adhi malam itu. Sial memang, akhirnya dia bersama 2 temannya pulang, kondisi basah kuyup dan coklat yang rasanya hambar di mulut Adhi dia berikan ke 2 temannya. Rasa kekecewaan Adhi yang satu ini memang belum bisa aku rasakan. Dia akhirnya menyerah, dan ada seorang perempuan yang waktu itu sekelas dengannya mendekati Adhi, yang akhirnya berujung pacaran. Ini bukan hal yang oke sih, usut punya usut ternyata kembali ke kejadian tragis malam itu si Kinan itu pengen pake banget keluar dari rumah dan nyamperin Adhi, dan ternyata Kinan itu sudah ilfeel sama Adhi kenapa dia malah jadian sama cewek lain. OH! Kalo yang satu itu aku paham betul apa yang dirasakan Adhi. Memang sih kadang kita gak bisa ngeliat kebenaran yang benar itu yang mana, kadang kita juga gak bisa ngerti apa maunya 2 hati yang berbeda itu. Kadang hati itu juga bikin Otak jadi bodoh. Muhammad Ramadhan. "Coy, udahan aja kenapa sih? Mau sampai kapan kalian mempertahankan hubungan yang kemungkinannya 90% berakhir juga diujung gara-gara kalian beda?" aku masih ingat perkataan yang dilontarkan ke Madan, dia hanya diam kaku tidak bisa menjawab pertanyaanku. Yasudahlah, daripada larut lebih baik kita lanjutkan saja kegiatan futsal kita ini. Tiba-tiba Madan membuka mulutnya "Iya jak, sudah lah aku juga cape, aku tau hubungan beda ini berat buat dijalanin, lebih baik aku Move On". Ya, melihat sedikit ada semnangat yang terpancar dari temanku juga membuat aku senang, kasian juga melihat dia banting tulang untuk hal yang sudah pasti rubuh pada ujung ceritanya. Hari berganti, beberapa hari aku belum sempat ketemu sama Madan, kami pun bertemu sewaktu dia berkunjung ke depan kelasku. "Jak, Dhi, aku pacaran sama anak kelasku?". Ya angsung saja kami tanya "SIAPA WOIY?". "Jesse". Hahahahahahahaha, orang ini memang gak konsisten. Yasudahlah, mau gimana lagi, kita sudah kelas 3 SMA juga mau diapain lagi biar dia milih apa yang jadi pilihannya. Yang paling bikin jengkel itu si Madan ini malah lebih (selalu) mementingkan si Jese daripada kegiatan kami di lomba futsal. Ujungnya sudah bisa ketebak kan kayagimaa cerita mereka? Pfftttttttt.. Rizal Aminullah. Dia melangkah menyusuri tiap tiang-tiang yang tertancap di depan ruang-ruang kelas yang dilaluinya, entah dia merasa gugup atau biasa saja mana kita tau. Sebagai salah satu teman akrabnya aku memang gak bisa menebak apa isi pemikiran dari orang ini. Dia terus maju dengan wajah yang biasa saja, dengan baju SMAnya yang sudah kusam akibat keringatnya, maklum saja itu sudah hampir waktu bel terakhir di sekolah berbunyi.Dia tetap memandang kedepan, sesekali dia menuju kerumunan orang yang mengelu-elukan namanya. Dia juga menyapa mereka yang ada di hadapannya. Sempat orang mengajak dia untuk berhenti sejenak untuk bermain badminton. Tapi dia kembali teringat dengan tujuan awalnya, meminta maaf ke orang yang mengajaknya bermain badminton. "Ada urusan yang harus di selesaikan". Dia kembali maju, dari tanah lapang berbatu yang kini berubah menjadi tangga semen yang membawanya ke depan pintu kelasnya, sparta classipada. Ruangan kosong diliatnya waktu itu, targetnya sudah keliatan, dia mengatakan sesuatu dengan lantang yang memecahkan keheningan, "KAJOL AKU SUKA DENGAN KAMU", semua memandangnya, dugaannya bahwa kelas sedang sepi salah, ternyata ada Asrie sahabat Kajol, mereka tertawa "Cie Kajol", sebelum mengetahui apa respon dari Kajol Rizal pun langsung pergi. Memang orang yang sulit buat dipahami. Muhammad Akmal. "tenooooooooooooooot" suara yang gak asing lagi untuk kami, sudah saatnya pulang. Aku melihat akmal memilih rute yang bukan ke arah rumahnya, entah apa yang dia lakukan, pergi ke tempat keluarganya mungkin. Di tempat lain, seorang pria putih gempal dibalitu dengan jaket semi jas dan helm GM hitam, pergi mengendarai motor beat hitam ke arah yang asing. Pandangannya tertuju pada satu arah, kaku, seakan tidak mau kehilangan sesuatu. Untuk kali ini dia harus fokus jangan sampai kehilangan. Seketika dia gelisah saat pandangannya mulai hilang, seketika ketika traffic light memancarkan warna merah dia merasa bahagia, dia juga harus jaga jarak. Akhirnya dia mengurangi kecepatannya, sedikit tidak kelihatan tapi pasti, akhirnya dia tau dimana rumah sang Pujaan hatinya. Bukan hari itu saja, semenjak dia tau dimana rumah sang idaman dia selalu menyempatkan entah sehabis sekolah berakhir, sebelum belajar kelompok atau iseng saja melalui rumah sang Idaman. Oh antara romantis atau kurang kerjaan. Syaldie Khairi. "Aku boleh jujur gak? Aku suka sama teman sekelas kita, inisialnnya "PERMATA"". Yap, mulai di saat itu kami semua saling terbuka kepada siapa kami saling jatuh cinta, aku tau siapa yang mereka dambakan, dan mereka juga tau siapa yang aku suka. Namun kisah yang satu ini benar-benar berat. Malam itu kami ke tempat biasanya kami menghabiskan waktu, Nasi Goreng Bunda, membicarakan hal-hal yang sangat sangat tidak penting. Malam itu Syaldie berani angkat bicara, "Aku mau menemmbak si Permata", wow kami shock, persiapan awal memang kami siapkan, aku sempat bertanya ke teman cewek yang memang mengerti tentang perasaan. Hari yang di tunggu tiba juga, pulang sekolah selepas pelajaran melelahkan dari Ibu Nurul si syaldie mengajak Permata untuk berbicara berdua. Kami cuman senyam senyum saja melihat keberanian si Syaldie. Aku juga takut apa dia bisa menghandle perasaannya kalau jawaban yang di berikan Permata jauh dari yang dia harapkan. Benar saja, dia menyuruh kami pulang duluan, perasaan memang gak enak, baru saja aku beristirahat sebelum kami harus ke kolam renang untuk mengikuti kegiatan bulanan sekolah aku mendapatkan text dari dia "Mungkin memang aku ditakdirkan untuk tidak dengan siapa-siapa, untuk sepi". Wow, kasian sekali, firasat buruk memang kurang ajar, memang lebih sering terjadi daripada firasat baik. Okelah, lebih baik kami cepat berkumpul bersama untuk menenangkan Syaldie. Sesampainya di kolam renang mukanya tidak karuan, ada ada saja yang dia katakan, "Ayo kita minum alkohol malam ini", "Kayaknya enak tuh terjun dari atas gedung". Kami ada di sebelahnya dia malah menjauh benar-benar terlihat kalau dia butuh waktu buat sendiri. Setelah selang beberapa waktu banyak orang yang tau kalau si Permata ini juga suka sama temanku, si Adhi. Di sini persahabatn kami benar-benar di uji, aku tidak tau siapa yang salah, si Permata dan Adhi sering sekali bersepedaan berdua, hal ini sudah menjadi rahasia umum. "Aku cuman nganggap teman, aku diajak, masa iya aku nolak", waduh, ini yang sulit. Di sisi lain si syaldie menyimpan rasa marah yang keliatan namun tidak bisa dia ungkapkan ke Adhi. Kalau dilihat dari perkataan Adhi memang benar, cuman teman, kalau dilihat dari rasa cemburu Syaldie juga manusiawi. Dilihat dari sudut pandang Permata gak ada yang salah juga, dia bebas mengajak siapa aja untuk diajak jalan. ACHMAD REZA KURNIAWAN. Pfttttttttttttt, postingan sebelum ini sudah cukup kan menceritakan cerita Cinta ku di SMA? Masih kurang? Aduh. Gak bakal menarik kok! Hahahaha. Oke guys, cinta itu memang banyak UPSIDE DOWNnya, sah-sah saja kalian takut dengan yang namanya cinta, kalau kalain masih belum mengerti. Tapi dibalik semua itu ada cerita, cerita yang membawa kalian ke akhir yang gak bakal kalian duga. Jangan pernah menyesali, dan jangan pernah rusak perjuanganmu coy!
Diposting oleh OpeN YouR EYES di 12.18 0 komentar
thanks again
My Musics
Create a playlist at MixPod.com
