Matahari sudah menunjukan seluruh bagiannya di langit, ini tandanya bahwa segalanya sudah harus siap. Ini akan menjadi sebuah pengalaman pertama yang super, dan tentunya akan sangat dikenang. Rasa takut juga pasti menghantui pikiranku dari malam tadi. Kebiasaan burukku saat menghadapi momen-momen seperti ini adalah gugup berlebihan diikuti sulit tidur dan muntah-muntah. Mungkin sedikit berlebihan, yap terimasajalah, semua orang itu memiliki caranya masing-masing dalam menghadapi sesuatu terutama momen-momen yang dapat membuat hati berdebar. Syukur saja aku sempat tertidur walau hanya setengah malam lamanya. Saat pelajaran bahasa jepang sampai agama islam di kelas tadi juga pikiranku sudah kemana-mana. Aku ragu, tapi ini memang harus dilakukan. Aku dan temanku rijal akan melakukan perjalanan yang cukup berbahaya untuk orang seumuran kami, kami akan pergi menuju kota tetangga, Banjarmasin. Tujuannya? Ya memang ada tujuan dari perjalanan kami, namun itu bukanlah bagian penting disini. Sudah saatnya, kami akan berangkat langsung dari pulang sekolah, ya walaupun berhenti untuk makan siang dan mengisi full tank motor yang akan kami kendarai ke Banjarmasin. Hannya sedikit baju yang kami bawa, maklum kami akan berangkat hari ini dan besok sudah kembali ke Kota Cantik. Ya, aku ke sekolah sudah saja membawa tas yang isinya bukan buku pelajaran melainkan bekal pakaian untuk perjalanan kami hari itu, tasku keliatan gemuk, banyak sih yang bertanya, tapi akan lebih baik tidak ada yang mengetahui kenapa tasku di penuhi dengan pakaian. “Dimana kami akan menginap?” bukanlah masalah penting, aku mempunyai kakek yang tinggal di komplek Karangpaci, Banjarmasin, lokasi yang cukup strategis, lokasi yang ada di jantung metropolis kota tujuan. Perispan lain? Ya mental, kami cumin bermodalkan nekat. Target perjalanan yang ada di pikiranku adalah 4 jam. Aku dan keluarga ku sangat sering pergi ke Banjarmasin, menggunakan mobil pribadi waktu yang di tempuh 4 jam, seharusnya motor bisa lebih cepat karena lebih ramping, namun ini adalah pengalaman pertama, akan lebih baik berhati-hati dan harus realistis. Segala sesuatu bisa terjadi, bahkan keselamatan adalah harga mati. Yang akan mengendarai motor adalah aku, Rijal adalah orang yang serba “aduh aduh aduh”, aku sudah menawar untuk bergantian namun dia mengelak, tidak ada gunanya untuk terus berdebat, hanya akan memakan banyak waktu saja. Sudah, kami berangkat, tujuan pertama adalah pengisian bahan bakar, berbeda di tempat kuliahku, aku lebih suka mengisi bahan bakar di SPBU daripada eceran. Tapi dikarenakan dulu sewaktu masih di kota cantik SPBU antrinya selalu “kurang ajar” aku lebih memilih untuk mengisi di eceran, yap biarpun sedikit mahal paling tidak bisa membuat perjalanan kami lebih cepat tanpa antrian panjang. Kami kebingungan bagaimana jika kehabisan bahan bakar di tengah jalan, jadi kami memutuskan untuk meminjam tangki minyak penjual eceran dan mengembalikan besok saat kami sudah selamat kembali ke kota cantik. Perjalanan belum dapat dimulai, kami harus mengisi perut yang lapar, makan di tengah jalan juga merupakan sebuah opsi namun kadang selera makanku pasti habis gara gara mood di perjalanan. Pilihan jatuh tidak jauh dari tempat kami mengisi minyak eceran. Rumah makan padang, masakan mereka yang akan menjadi bekal energy terakhir sebelum kami menuju provinsi sebelah. Perjalanan sesungguhnya pun dimulai, kami pergi mulai menghilang dari pandangan bundaran burung. Sesampainya di ujung jalan RTA Milono kami perlahan menuju ke kiri, mulai meninggalkan kota kesayangan. Di awal perjalanan tidak ada yang menjadi masalah, aku juga mempunyai teman untuk ngobrol di belakangku, ya Rijal adalah orang yang asik untuk diajak berbicara hal yang sepele. Jalan ini memang familiar, aku hapal jalanan yang akan kami lalui, namun aku belum pernah mengendarai motor dengan mandiri di atasnya. Umur kami juga belum genap 17 tahun, SIM palsu lah salah satu senjata andalan jika Polisi mencium bau kencur dari umur kami. Panasnya terik matahari juga tidak terasa, siang itu aku mulai berpikir kalau hari itu mendukung perjalanan kami. Pohon-pohon berdiri tegak, hembusan angin yang sedikit menggoyankan beberapa rantingnya, terlihat juga bekas kekejaman manusia, tandak hitam daun yang terbakar, masih ada sedikit api yang menyala dari kebakaran hutan yang terjadi beberapa waktu lalu. “Selamat meninggalkan kota Palangkaraya, semoga selamat sampai tujuan”, gapura ini menandakan bahwa babak awal dari perjalanan kami sudah dimulai. Checkpoint pertama sudah kami hampiri, jembatan yang panjang, jembatan tumbang nusa, sebenarnya ini bukanlah jembatan, sejenis fly over darat untuk mempermudah transportasi. Sebelum menaiki jembatan itu rijal minta berhenti untuk membeli air mineral, yap ide bagus, aku juga sudah merasakan haus. Kami kembali meneruskan perjalanan kami, rijal selalu mengingatkanku “hati hati, turunkan gigi kalau ada lobang kurangin keceapan”, aku masih belum terlalu terbiasa menghadapi medan jalan yang lumayan rusak seperti jalan trans Kalimantan ini. Aku kira nilaiku dalam menghadapi lubang di jalan adalah “D”, ya “D”. Kami berada di ujung Tumbang Nusa, sejauh ini perjalanan berjalan sesuai rencana. Tujuan selanjutnya adalah Pulang Pisau. Keberuntungan kami mulai pudar, akibat aku yang tidak menurut dengan perkataan rijal band depan motorku bocor parah, untungnya ada bengkel tepat di depan kami, jadi kami tidak menyeretnya terlalu jauh. Ada 2 kabar yang menunggu kami, kabar gembira dan kabar buruk. Kabar gembiranya tempat reparasi ini buka, dan satu-satunya sebelum kota pulang pisau. Kabar buruknya, tukang reparasinya sedang tidak ada di tempat, tempat ini djaga oleh anak kecil yang mengaku mengerti masalah reparasi ban, juga kota Pulang Pisau masih berada sekitar 18 KM jauhnya dari tempat reparasi ini, Wow, itu mungkin memakan waktu setengah jam jika kami menyeret motor ini, mungkin lebih aku rasa. Di awal anak kecil ini sangat menjajikan menjinakan ban yang tertusuk dan robek akibat keteledoranku. Sekitar jam 2 siang dan kami masih melihat anak kecil ini dengan yakinnya mengotak—atik ban rusak ini. Dia menarik alat pompa gas, cocok saja perkiraanku, kalau tangan seperti dia tidak akan membuat pompa gas itu menyala, akhirnya aku turun tangan baru pompanya mau menyala. Masalah belum selesai, dia tidak bisa mencocokan ban luar dan ban dalam, ayolah ini semakin memakan waktu, untuk menarik pompa gas okelah, tapi masalah ban aku memang tidak mengerti begitu juga rijal. Kami semakin tertahan, aku juga sudah tidak sabaran untuk pergi secepatnya dari tempat ini. Lama-lama aku juga geregetan sama anak kecil yang tidak mengalami kemajuan dalam memperbaiki ban dala. Aduh, kami coba membantu, tapi apa daya kami juga tidak mengerti. Ban luar ku pun semakin terlihat rusak gara-gara kerjaan anak kecil yang berusaha menolong kami ini. Setelah lebih dari satu jam tiket pergi kami dating, orang yang benar-benar mengerti sudah dating, sebelum dia memperbaiki masalah ban kami dia terlebih dahulu mengomel dan meminta maaf kepada kami. Yap, semua terlewati. Kami melanjutkan perjalanan, kami benar-benar tertunda lebih dari 2 jam, target perjalanan kami pun kacau. Kami mengabaikan tempat peristirahatan di Pulang Pisau, bukan tanpa alas an juga, kami sudah mengisi perut kami, kami sudah memiliki bekal melawan dahaga, juga pun yang terpenting waktu kami benar-benar terpotong. Tidak ada yang menarik, jalanan panjang masih terpapar disirami terik matahari yang semakin membuat kilau aspalnya semakin bersinar. Rasa jenuh pun semakin menjadi, aku memilih untuk tidak melakukan pembicaraan dengan rijal, aku rasa rijal pun sama jenuhnya. Setelah melewati kota air Kuala Kapuas kami sampai di gerbang, “Selamat Datang di Provinsi Kalimantan Selatan”, aku masih lega tapi belum puas, yap kami harus melewati Anjir dulu baru sampai ke Banjarmasin. Kami dikejutkan dengan kumpulan orang yang mengerumuni jalan, mereka tertuju ke satu arah, perasaanku dihantui ketakutan, benar saja ada kecelakaan yang baru saja terjadi. Kepala orang yang meninggal hari itu pecah, malang sekali, kami takut hal itu akan terjadi kepada kami. Aku diam, aku rasa rijal juga sama takutnya. Rijal memecah keheningan, “Sudah kita berdoa saja semoga perjalanan kita dilancarkan, sudah sedikit lagi sampai, Bismillah”. Yap kata rijal memang benar, tidak ada lagi kata “lebih baik kita tidak melakukan ini”, kita sudah terlanjur, aku pun memacu gas menuju jalan ke depan, namun dengan perasaan hati-hati atas teguran yang kami lihat barusan. Bensin yang kami beli sebelum melakukan perjalanan akhirnya berguna juga. Namun membawa petaka bagiku, tas yang penuh ini juga menyebarkan bau bensin, aku pergi ke ujung jalan, aku keluarkan tangki kosong dari tasku, aku lambaikan aku bersiap melemparnya sebelum rijal menghentikanku “woiy, kita janji sama orang itu untuk mengembalikannya”, aku menjawab “tasku ini penuh akan bajuku jal, kau liat sekarang semuanya bau bensin, lagipula ini cumin tangki, orang pun tak akan peduli kalau satu tangkinya hilang, bisa juga kita menggantinya menggunakan uang!”, “Jangan! Janji adalah janji” sahut Rijal. Di sini aku semakin kesal, kau pun tidak mau menyimpan tangki ini di tasmu, liat tasmu itu benar-benar cukup. Aku malas melakukan perdebadan, malah akan menambah waktu kami yang kelewatan ini. Akhirnya pukul sekitar setengah 6 maghrib waktu Palangkaraya kami sampai di Handil Bakti, ini menandakan bahwa 10 menit lagi kita resmi memasuki Kayutangi dan Banjarmasin. Perjalanan yang lelah. Kami menuju rumah kakekku, di sana kami dipersilahkan. Penat tidak terasa, itu malam minggu akhirnya kami menuju jalan manggis, aku meninggalkan rijal di pasar buah, dia awalnya menolak tapi aku harus menyelesaikan urusanku di sini, kali ini dia harus menuruti kemauanku. Yap aku meninggalkannya tidak lama, urusanku tidak terlalu penting untuk dipaparkan di sini sobat. Aku kembali ke pasar buah untuk menjemput rijal. Mukanya masam, tampaknya dia kecewa terhadap sifatku. Yap apaboleh buat, kali ini kau yang harus menurut dan kecewa paparku dalam hati. Kami menuju pusat kota, jalan Ahmad Yani ke Duta Mall, sialnya aku cuman membawa uang 50 ribu, ini cukup untuk makan dan isi gas. Aku juga tidak terlalu suka berbelanja, barang yang aku mau juga sulit didapatkan di tempat seperti mall. Setelah mengelilingi matahari dan rijal mendapatkan barangnya berupa baju abjad dan huruf kami pergi. Kami tidak peduli lagi dimana harus makan, pilihan jatuh ke warung tenda di pinggiran Ahmad Yani. Setelah itu kami pergi untuk beristirahat di tempat kakekku. Di sini aku melakukan kesalahan bodoh sebagai keluarganya, aku tidak menggunakan ijin menggunakan telepon genggam, aku ingin mengabari kekasihku waktu itu yang juga kebetulan sekelas dengan rijal. Aku dimarahi dan rijal semakin tidak enak. Akhirnya kami tidur, tapi aku benar-benar tidak bisa tidur malam itu. Adzan subuh berkumandang, target kami pulang sepagi-paginya, tapi aku harus menemui kakek untuk meminta maaf atas kelancanganku malam tadi. Aku melihat kamarnya kosong, akhirnya aku pergi ke masjid untuk menunaikan panggilanku. Yap aku bertemu kakekku di situ. Dia menyuruhku untuk menunggunya di rumah sehabis subuh. Aku meminta maaf sesampai dia dating, kami pamit namun dia masih mau berbicara dengan kami, tidak sopan kalau menolaknya., apalagi pembantunya sudah menyuguhkan roti dan the hangat. Dia menceramahi ku tentang banyak hal, sopan satun, etika yang aku benar-benar masih payah, sampai silsilah/suku keluarga yang benar-benar memakan waktu lama. Akhirnya kami pergi sekitar pukul 8 banjarmasin, artinya pukul 7 pagi waktu Palangkaraya. Selamat tinggal Banjarmasin, terimakasih atas pelajaran berharga yang engkau berikan.

0 komentar:
Posting Komentar