Ah hari itu tiba juga, semua penat yang sudah aku rasakan beberapa bulan silam pasti terlupakan, atau mungkin bertambah, yap bedanya penat yang akan aku rasakan setelah ini adalah penat “bahagia”. Semua barang perlengkapan dan peralatan juga sudah aku siapkan dari pagi tadi, sebenarnya bukan aku sendiri yang berinisiatif untuk berkemas. Ibuku sudah marah-marah sejak acara Big Brother di tayangkan kemarin malam. Barang lengkap, sudah rapi, sudah memakai jaket jeans kesukaan, yap mari pergi ke tempat dimana aku dan anak-anak lainnya haru berkumpul.
Suasana sudah jauh lebih ramai dari yang ku perkirakan, jumlahnya pun banyak sekali, hanya beberapa rombongan kelas saja yang anggotanya sedikit apatis. Aku langsung menyeret kaki ku menyisakan debu yang berterbangan, pergi menuju tempat semua teman-temanku berkumpul, kami masih bersendau gurau seperti biasa. Ya, banyak hal yang kami bahas, perempuan (aku rasa bagi kaum pria hal ini memang santapan wajib) sampai hal apa yang harus di lakukan ketika menginjakan kaki ke tempat tujuan. Sejauh itu tidak ada yang menarik perhatianku, semuanya terasa sama, yang sedikit membuat perbedaan hari itu semua memakai pakaian bebas, ada pula anak perempuan yang berdandan ala tante tante, maksudku, ayolah ini bukan pergi ke tempt shopping. Lagipula kalian ingin menarik perhatian lawan jenis dengan berpakaian seperti itu? Plis hargai diri kalian sendiri dulu.
Kami semua berkumpul seiring suara speaker yang penggunanya sudah tidak asing lagi. Guru olahraga kami, Ibu Suwarni, bagi sebagian temanku Bu Suwarni agak sedikit membuat kita tidak betah di pelajaran olah jasmaninya, tapi menurutku ibu Suwarni adalah sosok guru yang baik, ideal bagi kebanyakan siswa. Peraturan dan tata tertib selama mengikuti retreat yang berlangsung 3 malam 2 hari lamanya. Rombongan kelas kami pun diarahkan ke Bus kami masing-masing. Perjalanan yang di tempuh mungkin bagi sebagian teman-teman mengasyikan, bersendau gurau bersama sampai tidur. Aku? Ah inilah perjalanan darat pertama yang paling tidak kusuka. Duduk di kursi yang tida mempunyai senderan? Aku rasa kalian juga akan “bahagia” jika merasakannya, ya kan? Bus 3 yang aku tumpangi mengalami masalah, kami harus menunggu sekitar 1 jam untukperbaikan. Aku melihat para gadis-gadis menyempatkan mengabadikan kecantikan (menurut mereka sih) di kamera dengan berbagai gaya dan berbagai background. Masih, masih belum ada yang menarik perhatianku, yang aku tunggu hanyalah pendakian bukit. Pantai? Di jadwal memang ada pergi ke pantai, tapi pantai sudah terlalu biasa, apalagi sewaktu kecil kami sekeluarga sering sekali ke pantai itu.
Wow? Inikah tempatnya? Pandanganku lurus kedepan, bayanganku tentang tempat penginapan kami jauh melenceng. Tempatnya lumayan indah, terdapat pendopo yang bagus. Kuliat sekelilingku, semua bus sudah bersantai di parkiran mereka kosong tampa penumpang, ya kecuali para supir-supir bus dan crewnya. Halah crew kaya crew band aja. Semua anak laki-laki langsung berpencar, tapi kebanyakan bermain bola di halaman yang luas, aku juga gak mau ketinggalan.
Kita melenceng sedikit ya, seumur hidup aku orang yang agak kurang percaya sama yang namanya CINTA. Iya, aku memang pernah pacaran, bukannya aku baj*ngan, tp persepsi ku tentang hal yang begituan masih jauh. Aku juga sering menertawakan orang yang bilang mereka jatuh cinta. Ya, menurutku orang yang tepat itu pasti datang, tapi tidak sekarang, maksudku, ayolah masih muda, masih banyak yang lebih penting daripada CINTA. Namun malam itu benar-benar malam magis, ini mengubah pandangan ku tentang hal rasanya ini campur aduk kaya permen nano-nano, kaya warna pelangi, kaya bau makanan, kaya bau badan, kaya bau masakan ibu, ya pokoknya CINTA itu benar-benar rasanya gak bisa di duga.
Malam itu kami dikumpulkan untuk melakukan sharing, pentas seni dan lain-lain. Masih belum ada yang menarik perhatian, penampilan anak-anak juga tidak terlalu keren dan bagus, semua bertepuk tangan. Yang aku pedulikan hanyalah “ayo cepat tidur, ayo kita naik bukit”. Selang beberapa acara sampai ke penampilan temanku satu ekskul, dia menampilkan pertunjukan sulap. Baru kali ini sesuatu
menarik perhatianku, bukan sulapnya tentu saja. Dia menarik salah satu penonton, arahnya tertuju pada seorang perempuan dengan paras kucel, lesu, kusam. Aku heran kenapa dia tidak memperbaiki penampilan, hampir semua perempuan di sana berdandan sebelum acara malam ini di mulai. Matanya agak sipit, rambut hitam lurus, belah ke kiri, mengenakan kalung yang aku rasa tertulis namanya, sedikit keliatan telinganya keluar dari celah yang dibuat rambutnya, mukanya agak sedikit mencerminkan kalo dia orang yang pendiam. Ketika di tarik temanku untuk berpartisipasi dengan sulapnya dia agak sedikit menolak. Yap, sulap temanku benar-benar gagal bersama perempuan ini. Aku terus memperhatikannya, sesekali ketika dia memalingkan muka aku buang pandanganku. Yap, jangtungku gak karuan, seketika dia tersenyum, saat itu juga aku merasa aku keluar dari tubuhku dan terbang. Benar-benar ciptaan Tuhan yang indah. Yang aku takutkan : 1. Dia berbeda (kepercayaan), ya orang dengan paras seperti dia di tempat tinggalku kebanyakan berbeda. 2. Dia punya pacar. 3. Aku sudah OUT, ya aku rasa dia punya kriteria sendiri untuk laki-laki idamannya. Pentas seni selanjutnya benar-benar aku acuhkan, aku tetap memperhatikan gerak geriknya. Aku memperhatikan baju merah muda yang dia kenakan malam itu. Selepas acara au masih belum berani menanyakan pada temanku tentang perempuan ini, itu akan merusak prinsip aku sendiri. Malam itu perasaanku campur aduk, aku di buat tidak bisa tidur.
Yap inilah saat aku pertama kalinya jatuh hati pada seorang perempuan. Mungkin cerita tentang perempuan ini akan aku singgung di postingan lain, mungkin sehabis ini aku membahas dia lagi, sebut saja “E”. Yap “E” cuman aku sendiri kenapa inisial ini aku labelkan. Mungkin juga postingan selanjutnya jauh dari konteks ini, tentang hal lain. Buenas dias amigos!
LOVE... AH! LOVE..
Rabu, 04 Juni 2014
Diposting oleh OpeN YouR EYES di 17.21 0 komentar
Langganan:
Postingan (Atom)
thanks again
My Musics
Create a playlist at MixPod.com