"Sahabatku, warna hidupku", yap kutipan yang cocok untuk menggambarkan sebuah arti dari "Sahabat". Kalian semua pasti memiliki yang namanya teman baik atau sahabat. Orang yang mau saja di rugikan oleh kita, orang yang sangat loyal terhadap kita, orang yang ada bersama kita di saat baik dan buruk. Memang, yang namanya teman itu beragam jenisnya, tidak mudah untuk mencari orang yang cocok dengan pemikiran kita. Aku pun sangat berterimakasih karena aku sudah bertemu dengan pria-pria ini hahahaha. Semua dari kami memang memiliki banyak problem, yap masalah cinta. Ada yang masuk ke cinta segitiga antar pertemanan kami, ada yang ngomongnya "aku berhenti jak sama yang model kayagituan" eh malah makan omongan sendiri, ada juga yang bodo amat sama yang namanya cinta, ada juga yang berani ngejual nama teman supaya ngedapatin nomer cewek. Untuk aku sendiri? Masalah cintaku? Pfftttttttttttttttttt... Kalian gak bakal tertarik. HA. Oke, sebenarnya banyak sekali hal yang menarik yang bisa diambil dari kelakuan mereka, tapi untuk menarik perhatian pembbaca yang notabene para remaja-remaja "bulletproof LOVE" kita bakal bahas romansa tragis dari kisah cinta mereka. OKE! Nugraha Adhi, yap bisa di bilag pria kekar ini penasihat yang baik ketika teman-teman lainnya sedang dihadapin masalah. Adhi sering banget tuh yang namanya nge"shelter" di rumahku kalo lagi ada masalah, kita juga saling sharing apa yang kita hadapin. Mulai dari masalah gak jelas sampai masalah yang jelas. Adhi dari jaman bocah ingusan SMP nih dari dulu tuh nyimpan hati ke cewe manis yang inisialnya "KINAN", aku hitung-hitung sih sudah banyak banget perjuangan si Adhi nih buat ngedapatin hati si Kinan. Malam itu malam Valentine, Adhi punya plan yang oke banget nih, dia bawa coklat terbesar di Kota ini waktu itu, pergi bersama 2 temannya yang lain, sementara 2 temannya tadi sembunyi di kios yang ada di depan gapura gerbang menuju rumahnya si Kinan si Adhi, dengan bermodalkan 2 senjata mautnya NEKAT dan Batangan Coklat pergi ke depan rumah Kinan. Suasana sepi, ya maklum saja waktu itu jam sudah menunjukkan pukul (hampir) 22.00 WIB. Aku rasa cewe SMA sekelas Kinan memang wajar gak boleh keluar rumah diatas jam segitu. Sialnya lagi nih ya, malam itu hujan turun, kayaknya sih (memang bukan kayaknya!) langit gak ngedukung Adhi malam itu. Sial memang, akhirnya dia bersama 2 temannya pulang, kondisi basah kuyup dan coklat yang rasanya hambar di mulut Adhi dia berikan ke 2 temannya. Rasa kekecewaan Adhi yang satu ini memang belum bisa aku rasakan. Dia akhirnya menyerah, dan ada seorang perempuan yang waktu itu sekelas dengannya mendekati Adhi, yang akhirnya berujung pacaran. Ini bukan hal yang oke sih, usut punya usut ternyata kembali ke kejadian tragis malam itu si Kinan itu pengen pake banget keluar dari rumah dan nyamperin Adhi, dan ternyata Kinan itu sudah ilfeel sama Adhi kenapa dia malah jadian sama cewek lain. OH! Kalo yang satu itu aku paham betul apa yang dirasakan Adhi. Memang sih kadang kita gak bisa ngeliat kebenaran yang benar itu yang mana, kadang kita juga gak bisa ngerti apa maunya 2 hati yang berbeda itu. Kadang hati itu juga bikin Otak jadi bodoh. Muhammad Ramadhan. "Coy, udahan aja kenapa sih? Mau sampai kapan kalian mempertahankan hubungan yang kemungkinannya 90% berakhir juga diujung gara-gara kalian beda?" aku masih ingat perkataan yang dilontarkan ke Madan, dia hanya diam kaku tidak bisa menjawab pertanyaanku. Yasudahlah, daripada larut lebih baik kita lanjutkan saja kegiatan futsal kita ini. Tiba-tiba Madan membuka mulutnya "Iya jak, sudah lah aku juga cape, aku tau hubungan beda ini berat buat dijalanin, lebih baik aku Move On". Ya, melihat sedikit ada semnangat yang terpancar dari temanku juga membuat aku senang, kasian juga melihat dia banting tulang untuk hal yang sudah pasti rubuh pada ujung ceritanya. Hari berganti, beberapa hari aku belum sempat ketemu sama Madan, kami pun bertemu sewaktu dia berkunjung ke depan kelasku. "Jak, Dhi, aku pacaran sama anak kelasku?". Ya angsung saja kami tanya "SIAPA WOIY?". "Jesse". Hahahahahahahaha, orang ini memang gak konsisten. Yasudahlah, mau gimana lagi, kita sudah kelas 3 SMA juga mau diapain lagi biar dia milih apa yang jadi pilihannya. Yang paling bikin jengkel itu si Madan ini malah lebih (selalu) mementingkan si Jese daripada kegiatan kami di lomba futsal. Ujungnya sudah bisa ketebak kan kayagimaa cerita mereka? Pfftttttttt.. Rizal Aminullah. Dia melangkah menyusuri tiap tiang-tiang yang tertancap di depan ruang-ruang kelas yang dilaluinya, entah dia merasa gugup atau biasa saja mana kita tau. Sebagai salah satu teman akrabnya aku memang gak bisa menebak apa isi pemikiran dari orang ini. Dia terus maju dengan wajah yang biasa saja, dengan baju SMAnya yang sudah kusam akibat keringatnya, maklum saja itu sudah hampir waktu bel terakhir di sekolah berbunyi.Dia tetap memandang kedepan, sesekali dia menuju kerumunan orang yang mengelu-elukan namanya. Dia juga menyapa mereka yang ada di hadapannya. Sempat orang mengajak dia untuk berhenti sejenak untuk bermain badminton. Tapi dia kembali teringat dengan tujuan awalnya, meminta maaf ke orang yang mengajaknya bermain badminton. "Ada urusan yang harus di selesaikan". Dia kembali maju, dari tanah lapang berbatu yang kini berubah menjadi tangga semen yang membawanya ke depan pintu kelasnya, sparta classipada. Ruangan kosong diliatnya waktu itu, targetnya sudah keliatan, dia mengatakan sesuatu dengan lantang yang memecahkan keheningan, "KAJOL AKU SUKA DENGAN KAMU", semua memandangnya, dugaannya bahwa kelas sedang sepi salah, ternyata ada Asrie sahabat Kajol, mereka tertawa "Cie Kajol", sebelum mengetahui apa respon dari Kajol Rizal pun langsung pergi. Memang orang yang sulit buat dipahami. Muhammad Akmal. "tenooooooooooooooot" suara yang gak asing lagi untuk kami, sudah saatnya pulang. Aku melihat akmal memilih rute yang bukan ke arah rumahnya, entah apa yang dia lakukan, pergi ke tempat keluarganya mungkin. Di tempat lain, seorang pria putih gempal dibalitu dengan jaket semi jas dan helm GM hitam, pergi mengendarai motor beat hitam ke arah yang asing. Pandangannya tertuju pada satu arah, kaku, seakan tidak mau kehilangan sesuatu. Untuk kali ini dia harus fokus jangan sampai kehilangan. Seketika dia gelisah saat pandangannya mulai hilang, seketika ketika traffic light memancarkan warna merah dia merasa bahagia, dia juga harus jaga jarak. Akhirnya dia mengurangi kecepatannya, sedikit tidak kelihatan tapi pasti, akhirnya dia tau dimana rumah sang Pujaan hatinya. Bukan hari itu saja, semenjak dia tau dimana rumah sang idaman dia selalu menyempatkan entah sehabis sekolah berakhir, sebelum belajar kelompok atau iseng saja melalui rumah sang Idaman. Oh antara romantis atau kurang kerjaan. Syaldie Khairi. "Aku boleh jujur gak? Aku suka sama teman sekelas kita, inisialnnya "PERMATA"". Yap, mulai di saat itu kami semua saling terbuka kepada siapa kami saling jatuh cinta, aku tau siapa yang mereka dambakan, dan mereka juga tau siapa yang aku suka. Namun kisah yang satu ini benar-benar berat. Malam itu kami ke tempat biasanya kami menghabiskan waktu, Nasi Goreng Bunda, membicarakan hal-hal yang sangat sangat tidak penting. Malam itu Syaldie berani angkat bicara, "Aku mau menemmbak si Permata", wow kami shock, persiapan awal memang kami siapkan, aku sempat bertanya ke teman cewek yang memang mengerti tentang perasaan. Hari yang di tunggu tiba juga, pulang sekolah selepas pelajaran melelahkan dari Ibu Nurul si syaldie mengajak Permata untuk berbicara berdua. Kami cuman senyam senyum saja melihat keberanian si Syaldie. Aku juga takut apa dia bisa menghandle perasaannya kalau jawaban yang di berikan Permata jauh dari yang dia harapkan. Benar saja, dia menyuruh kami pulang duluan, perasaan memang gak enak, baru saja aku beristirahat sebelum kami harus ke kolam renang untuk mengikuti kegiatan bulanan sekolah aku mendapatkan text dari dia "Mungkin memang aku ditakdirkan untuk tidak dengan siapa-siapa, untuk sepi". Wow, kasian sekali, firasat buruk memang kurang ajar, memang lebih sering terjadi daripada firasat baik. Okelah, lebih baik kami cepat berkumpul bersama untuk menenangkan Syaldie. Sesampainya di kolam renang mukanya tidak karuan, ada ada saja yang dia katakan, "Ayo kita minum alkohol malam ini", "Kayaknya enak tuh terjun dari atas gedung". Kami ada di sebelahnya dia malah menjauh benar-benar terlihat kalau dia butuh waktu buat sendiri. Setelah selang beberapa waktu banyak orang yang tau kalau si Permata ini juga suka sama temanku, si Adhi. Di sini persahabatn kami benar-benar di uji, aku tidak tau siapa yang salah, si Permata dan Adhi sering sekali bersepedaan berdua, hal ini sudah menjadi rahasia umum. "Aku cuman nganggap teman, aku diajak, masa iya aku nolak", waduh, ini yang sulit. Di sisi lain si syaldie menyimpan rasa marah yang keliatan namun tidak bisa dia ungkapkan ke Adhi. Kalau dilihat dari perkataan Adhi memang benar, cuman teman, kalau dilihat dari rasa cemburu Syaldie juga manusiawi. Dilihat dari sudut pandang Permata gak ada yang salah juga, dia bebas mengajak siapa aja untuk diajak jalan. ACHMAD REZA KURNIAWAN. Pfttttttttttttt, postingan sebelum ini sudah cukup kan menceritakan cerita Cinta ku di SMA? Masih kurang? Aduh. Gak bakal menarik kok! Hahahaha. Oke guys, cinta itu memang banyak UPSIDE DOWNnya, sah-sah saja kalian takut dengan yang namanya cinta, kalau kalain masih belum mengerti. Tapi dibalik semua itu ada cerita, cerita yang membawa kalian ke akhir yang gak bakal kalian duga. Jangan pernah menyesali, dan jangan pernah rusak perjuanganmu coy!
0 komentar:
Posting Komentar